Aktivisme Rosa Parks di Era Segregasi Rasial Amerika Serikat

0
Share

Pada suatu hari pada tahun 1955 di Montgomery, Alabama, seorang wanita keturunan Afrika-Amerika bernama Rosa Parks duduk di bangku di deretan depan bus. Beberapa lama kemudian, bus menjadi penuh dengan penumpang. Si supir bus meminta Parks untuk pindah dan menyerahkan tempat duduknya kepada seorang penumpang berkulit putih. Parks menolak. Tindakannya ini memicu salah satu gerakan sosial terbesar dalam sejarah.

Kenapa ini bisa terjadi? Kok hanya karena seorang wanita menolak pindah dari bangkunya di bus, bisa membuat perubahan besar dalam sejarah?

Alasan hal ini terjadi adalah karena di masa itu, segregasi rasial masih marak terjadi di Amerika Serikat. Segregasi rasial ini menimbulkan ketidakadilan terhadap orang-orang kulit hitam. Mereka menghadapi diskriminasi dalam pekerjaan dan dipisahkan dari orang-orang kulit putih di sekolah dan tempat umum. Mereka hanya bisa belajar di sekolah tertentu, minum dari air mancur tertentu, hanya bisa meminjam buku dari perpustakaan khusus untuk orang kulit hitam.

Segregasi ini juga diterapkan di Jalur Bus Montgomery, yang mengakibatkan orang-orang kulit hitam tidak dipekerjakan sebagai supir, dipaksa harus duduk di bagian belakang bus, dan sering disuruh untuk menyerahkan tempat duduk mereka untuk orang kulit putih, padahal 75% penumpang bus pada saat itu adalah orang kulit hitam.

Karena itulah, tindakan sesederhana menolak menyerahkan tempat duduknya kepada penumpang kulit putih menjadi hal besar. Itu menyimbolkan perlawanan. Rosa Parks menolak tunduk kepada sistem yang mendiskriminasi dirinya dan kaumnya.

Jadi, siapa sih Rosa Parks ini?

Terlahir dengan nama asli Rosa Louise McCauley, ia lahir pada tanggal 4 Februari 1913 di Alabama, Amerika Serikat. Rosa sempat mengenyam pendidikan di Alabama State University, namun sayangnya terpaksa harus keluar sekolah karena neneknya jatuh sakit.

Tumbuh besar di Selatan, Rosa sangat sering menghadapi diskriminasi rasial dan kekerasan. Dia menjadi aktif memperjuangkan gerakan hak-hak sipil Afrika-Amerika sejak usia muda.

Saat usianya 19 tahun, Rosa menikahi Raymond Parks, seorang pemuda yang juga aktif berjuang untuk mengakhiri ketidakadilan rasial. Bersama-sama, pasangan ini bekerja dengan banyak organisasi keadilan sosial. Rosa juga pernah menjabat sebagai sekretaris di National Association for the Advancement of Colored People (NAACP).

Ketika Rosa menaiki bus itu, dia sudah menjadi seorang pengurus dan pemimpin gerakan hak-hak sipil Afrika-Amerika. Usianya pada saat itu adalah 42 tahun.

Walaupun tindakan beraninya telah memulai gerakan protes, dia mendapat konsekuensi karena menolak menyerahkan bangkunya. Dia ditahan dan juga kehilangan pekerjaannya di toko serba ada di Montgomery.

Setelah penangkapannya, orang-orang kulit hitam di Montgomery (dan orang-orang dari ras lainnya yang juga bersimpati dengan kasus Rosa) mengorganisir dan mempromosikan pemboikotan jalur bus setempat yang berlangsung selama 381 hari. Martin Luther King, Jr. adalah orang yang ditunjuk sebagai juru bicara dan mengajarkan gerakan anti-kekerasan kepada semua partisipan. Gerakan ini juga dibantu oleh Rosa.

Setelah pemboikotan itu, Rosa dan suaminya pindah dan menetap di Detroit, Michigan.

Kerja keras Rosa terbukti sangat berharga bagi Gerakan Hak-Hak Sipil di Detroit. Dia anggota aktif beberapa organisasi yang bekerja untuk mengakhiri ketidakadilan ras di kota itu.

Selama hidupnya, Rosa meraih banyak pencapaian. Dengan Elaine Eason Steele, dia mendirikan Rosa and Raymond Parks Institute for Self Development, sebagai  penghormatan kepada suaminya yang meninggal di tahun 1977. Tuujuannya adalah untuk memotivasi dan mengarahkan anak muda untuk mencapai potensi tertinggi mereka. Menurut Rosa, energi yang dimiliki anak muda adalah kekuatan besar bagi perubahan. Selain itu, Rosa menerima beberapa gelar doktorat, serta ratusan plakat, sertifikat, medali, dan penghargaan. Di tahun 1996, Presiden Clinton memberikan Medal of Freedom kepada Rosa, penghargaan tertinggi yang bisa diberikan kepada warga sipil pada waktu itu.

Selain itu, dia dipilih oleh Majalah Time sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di abad ke-20. Museum dan perpustakaan didirikan sebagai penghormatan terhadapnya, juga sebuah pusat pendidikan di Michigan. Rosa juga sempat menulis beberapa buku, salah satunya autobiografinya yang berjudul “Rosa Parks: My Story” yang ditulisnya bersama Jim Haskins dan diterbitkan pada tahun 1992.

Pada tahun 1980, Rosa menderita sakit dan kesulitan keuangan. Dia hampir diusir dari rumahnya di Michigan, namun orang-orang dari berbagai komunitas lokal dan gereja bersatu untuk menolongnya. Pada 24 Oktober 2005, Rosa Parks meninggal di usia 92 tahun karena sebab alami.

Sumber

  1. Rosa Parks (WomenHistory.org)
  2. Montgomery Bus Boycott (History.com)
  3. Montgomery Bus Boycott (Wikipedia)
  4. Rosa Parks Official Website
Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *