Auguste Comte: Di Balik Kemunculan Positivisme

0
Share

Kemunculan sosiologi dan positivisme tidak bisa dilepaskan dari seorang filsuf dan sosiolog Perancis bernama Auguste Comte. Besar bersama bayang-bayang Revolusi Perancis, pemikiran Comte banyak dipengaruhi oleh kejadian besar tersebut, terutama karena revolusilah yang mengakibatkan pergeseran nilai-nilai masyarakat saat itu.

Positivisme dan Hukum Tiga Tahap

Comte beranggapan bahwa Revolusi Perancis cenderung bersifat destruktif. Menurutnya, masyarakat harus diatur secara ilmiah dan rasional. Nilai-nilai modernitas diperlukan agar masyarakat maju. Oleh karena itu, masyarakat harus dipimpin oleh orang-orang yang ahli dalam bidang saintifik. Itulah sebabnya, Comte mengembangkan pemikiran positivisme.

Dalam pemikiran positivisme, fakta atau disebut juga dengan pengetahuan positif adalah suatu hal empiris yang dapat diobservasi melalui panca indera. Oleh sebab itu, pengalaman objektif menjadi penting bagi adanya sebuah fakta. Sebaliknya, realita yang tidak bisa diakses melalui melalui panca indera dianggap sebagai pengetahuan yang tidak berarti.

Comte menekankan pemikirannya tentang positivisme dalam hukum tiga tahap perkembangan intelektual manusia. Menurutnya, setiap kelompok, masyarakat, ilmu, individu, pikiran, dan dunia melewati tiga tahapan yang sama dalam perkembangannya, yaitu: teologis, metafisik, dan positif.

Pertama, tahap teologis. Dalam tahap ini, sistem ide utama percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan akibat dari kekuatan supranatural yang berada di luar manusia. Hal-hal semacam fenomena alam dipercaya sebagai perbuataan kekuatan-kekuatan besar seperti Tuhan, dewa, dan sebagainya. Masyarakatnya cenderung tidak mempertanyakan sesuatu secara empiris dan rasional, karena menganggap segalanya telah diatur oleh Sang Pemilik Kekuatan luar biasa tersebut.

Selain itu, masyarakat dalam tahap ini akan mengangkat pemimpin yang dianggap sebagai wakil Tuhan atau Dewa di dunia. Dia yang mendapatkan tanda-tanda yang berasal dari kekuatan di luar manusia tersebut akan dipatuhi karena adanya anggapan kedekatan dengan kekuatan supranatural tersebut. Hal ini membuatnya pantas mengatur kehidupan masyarakat. Kondisi pada tahap ini disebut dengan kondisi yang fiktif.

Tahap pertama ini dibagi lagi menjadi tiga tahapan, yaitu: fetisisme, politeisme, dan monoteisme. Dalam tahap fetisisme, manusia memikirkan tentang adanya roh halus yang memiliki kekuatan tertentu. Roh halus tersebut terdapat pada benda-benda seperti pohon, batu, topeng, dsb. Karena anggapan itu, manusia mulai menyembah hal-hal tersebut. Namun, pada tahap ini, pemimpin/imam masih belum diperlukan, sehingga, setiap orang menjadi tidak memerlukan “perantara” antara dirinya dan yang ia sembah.

Kemudian, pada tahapan politeisme, manusia mulai menyadari bahwa kekuatan tersebut berasal dari adanya entitas yang mengatur dan menguasai kehidupan manusia dan berjumlah banyak, seperti dewa-dewa yang memiliki kuasa berbeda satu sama lain.

Selanjutnya, tahap monoteisme. Pada tahap ini, manusia mulai beranggapan bahwa hanya terdapat satu entitas penguasa saja, Dialah yang berkuasa atas antara dewa-dewa yang lain. Oleh karena itu, tak perlu lagi menyembah dewa-dewa atau Tuhan yang berjumlah banyak. Cukup satu saja, yang paling tinggi di antara semuanya. Entitas-entitas lain yang sebelumnya dianggap sejajar pada masa politeisme, dianggap berada di posisi yang lebih rendah dari Yang Tertinggi, tetapi lebih tinggi dari manusia.

Kedua, tahap metafisik. Pada tahap ini, manusia mulai menggunakan akalnya untuk berpikir tentang realita. Tahap ini disebut juga sebagai tahap peralihan dari teologis menuju positif. Sifat kritis dan rasionalitas manusia mulai berkembang untuk mempertanyakan berbagai hal, termasuk tentang kekuatan di luar manusia. Fenomena-fenomena yang ada di alam tidak lagi dianggap murni sebagai pertunjukan kekuatan yang berasal dari entitas di luar manusia. Entitas supernatural tersebut digantikan oleh kekuatan abstrak yang melekat dalam berbagai makhluk di dunia. Merekalah yang mampu menghasilkan dan menentukan semua fenomena yang ada.

Ketiga, yaitu tahap positif. Pada tahap ini, manusia menjunjung tinggi nilai-nilai sains yang didasarkan pada rasionalitas dan empiris. Manusia mulai tidak mempercayai hal-hal yang tidak dapat diketahui melalui panca indera. Pengetahuan positiflah yang akan mengatur tingkah laku manusia. Pemikiran-pemikiran mengenai entitas supranatural yang mengatur fenomena alam luntur, digantikan dengan penjelasan-penjelasan rasional menggunakan akal. Masyarakat pada tahap ini pun diatur berdasarkan pengetahuan saintifik yang berdasarkan fakta. Fakta-fakta ini didapatkan dari observasi realita yang ada.

Kelahiran Sosiologi

Selain menjelaskan tentang filsafat positivismenya, Comte juga menjelaskan ilmu yang mempelajari manusia. Menurutnya, fakta sosial harus direduksi menjadi hukum-hukum tertentu sebagaimana ilmu-ilmu alam. Oleh karena itu, ia menyebut ilmu tersebut dengan sebutan “fisika sosial” atau yang kemudian disebut dengan “sosiologi”. Ilmu ini dianggap penting untuk merekonstruksi kehidupan masyarakat agar menjadi agar menjadi lebih baik.

Comte membagi ranah sosiologi dalam dua bahasan: statika sosial yang mempelajari tentang struktur-struktur yang sudah ada dan menyatukan masyarakat dan dinamika sosial, perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Menurutnya, dinamika sosial menjadi lebih penting daripada statika sosial. Ia tidak mendesak perubahan revolusioner karena menurutnya, revolusi yang bersifat alamiah akan lebih baik. Dalam prosesnya membantu revolusi alamiah itulah diperlukan pembaruan-pembaruan dalam masyarakat.

Selain itu, Comte mengklasifikasikan ilmu-ilmu berdasarkan tingkat keabstrakannya. Perkembangan ilmu di dunia ini bermula dari pemahaman-pemahaman yang sederhana dan abstrak, kemudian menuju pemahaman yang kompleks dan konkret. Oleh karena itu, menurutnya perkembangan ilmu adalah sebagai berikut: matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi, dan yang terakhir adalah sosiologi. Secara sederhana, ini berarti bidang astronomi membutuhkan matematika, kimia membutuhkan fisika, dst. Comte percaya bahwa sosiologi akan menjadi kekuatan ilmiah dominan karena kekhasannya dalam menafsirkan hukum-hukum sosial yang dapat digunakan untuk menciptakan pembaruan dalam prosesnya untuk menyelesaikan masalah dalam sebuah sistem masyarakat.

Agama Kemanusiaan

Dalam proses perkembangan masyarakat, Comte mengemukakan pendapatnya tentang agama kemanusiaan yang tak memiliki Tuhan dan hal supranatural yang lain. Ini merupakan agama yang didasarkan pada pemikiran-pemikiran positivistik. Dia percaya bahwa di dalam masyarakat positivis yang memiliki basis sains yang kuat, terdapat agama yang mengatur perilaku manusia berdasarkan moral. Dalam agama positivis ini, ibadah, doktrin, dan kaidah moral semuanya memiliki objek akhir yang sama, yaitu kemanusiaan yang harus dijunjung tinggi berdasarkan nilai-nilai positivistik.

Oleh karena itu, cinta dan kemanusiaan sangat dijunjung tinggi dalam agama ini, sehingga nantinya membawa umat manusia kepada kemajuan. Menurutnya, untuk mencapai kemajuan, manusia harus mengalami keteraturan yang berprinsip pada cinta dan kasih sayang terlebih dahulu. Seperti kata Comte, “The sacred formula of positivism: love as a principle, the order as a basis, and progress as a goal.

Daftar Pustaka:
Barnes, H. E., Fletcher, R., Augustyn, A., Duignan, B., Lewis, R., Lotha, G., & Rodriguez, E. (2021). Augute Comte. Retrieved from Britannica: https://www.britannica.com/biography/Auguste-Comte/Thought
Bourdeau, M. (2021). Auguste Comte. Retrieved from The Stanford Encyclopedia of Philosophy: https://plato.stanford.edu/entries/comte/#LawThrSta
Ritzer, G. (2012). Teori Sosiologi dari Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Schmaus, W. (1982). A Reaprraisal of Comtes`s Three-State Law. History and Theory, 248-266.
Simon. (2017). Un courant hétérogène et hostile à la Révolution. Retrieved from Superprof: Un courant hétérogène et hostile à la Révolution
Thorpe, C., Yuill, C., Hobbs, M., Todd, M., Tomley, S., & Weeks, M. (2015). The Sociology Book. New York: DK.

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *