Belajar Memaknai Hidup dari Nicomachean Ethics

2
Share

Aristoteles seringkali didambai oleh tiap pegiat filsafat karena wawasannya yang sangat luas dengan pendalaman yang menakjubkan. Membicarakan karya beliau, tentu kita tak bisa terlepas dari salah satu buku Aristoteles yang paling terkenal, Nicomachean Ethics.

Pada buku tersebut, Aristoteles berusaha untuk menemukan “supreme good for man” (kebaikan tertinggi bagi manusia), apa cara terbaik untuk menjalani hidup kita dan memberikannya sebuah makna.

Bagi Aristoteles, sesuatu itu harus dimengerti dengan melihat tujuannya. Sebagai contoh, tujuan dari pisau adalah untuk memotong, tujuan dari kedokteran adalah kesehatan yang baik. Dengan melihat tujuan-tujuan ini, kita dapat mengerti apa itu pisau dan apa itu obat dalam arti sebenarnya.

Tetapi saat ini, mahasiswa kedokteran tidak hanya memiliki tujuan untuk menyembuhkan orang sakit, tetapi ada juga yang memiliki tujuan untuk mencari nafkah dan lainnya. Aristoteles berkata kalau tujuan akhir (final good) yang memuaskan kita ialah kebahagiaan (eudaimonia).

Kebahagiaan merupakan tujuan terakhir manusia dan inti dari kehidupan manusia. Kenapa? Karena ketika kita sudah bahagia, kita tidak memerlukan apa-apa lagi. Tetapi, hal ini akan membuat kita bertanya kembali, hidup seperti apa yang membuat manusia bahagia?

Pandangan yang lazim ditemukan ialah hedonisme, sebuah aliran filsafat yang mengajar bahwa sebagai aturan paling dasar hidup, kita hendaknya menghindar dari rasa sakit dan mengusahakan rasa nikmat. Hedonisme ini dipandang sebagai kebahagiaan yang semu atau dangkal. Tetapi, Aristoteles tidak mentah-mentah menolak usaha untuk memperoleh rasa nikmat.

Nikmat merupakan unsur yang penting dalam segala segi kehidupan, termasuk kehidupan moral, asalkan tidak ditempatkan sebagai tujuan pada dirinya sendiri (end-in-itself).

Menurutnya, kegiatan apapun akan membawa nikmat ketika kegiatan tersebut berhasil diselesaikan. Tetapi, apabila nikmat itu sendiri yang diusahakan, nikmat justru akan mengelak.

Cara hidup ternak

Manusia bukanlah ternak karena manusia tak mungkin mencapai kepuasan yang sebenarnya apabila ia memusatkan diri pada hal-hal yang dimilikinya. Maka, hidup mencari nikmat dalam arti nikmat inderawi (makan, minum, nikmat seksual) akan berujung pada kekecewaan.

Nikmat yang lebih bermutu dan lebih membahagiakan justru akan tertutup bagi kita, seperti nikmat yang kita rasakan dari pergaulan dengan teman, nikmat menemukan kebenaran dalam studi, nikmat membuat karya seni, nikmat karena tersentuh oleh kasih Tuhan. Maka dari itu, yang harus kita kejar ialah segala perbuatan yang bermakna, dan nikmat akan mengikuti dengan sendirinya.

Aristoteles menegaskan bahwa bukan nikmat yang harus kita kejar, tapi perbuatan-perbuatan yang bermakna. Dengan mengejar perbuatan yang bermakna, nikmat akan mengikuti dengan sendirinya. Sebagai kelanjutan dari hal tersebut, kita pun akan dapat sungguh menikmati hidup.

Untuk mencapai suatu hidup yang bermutu, kita jangan berfokus pada nikmat, tapi sekali lagi, perbuatan bermakna.

Contoh perbuatan bermakna ini ialah ketika kita bertindak berdasarkan keluhuran moralitas kita. Bagi Aristoteles, moralitas merupakan gejala kemanusiaan yang paling penting. Moralitas dapat disebut keseluruhan peraturan tentang bagaimana manusia harus mengatur kehidupannya agar manusia dapat menjadi seseorang yang baik. Untuk itulah, moralitas perlu diajarkan kepada setiap manusia melalui pendidikan moral.

Berhasil atau gagalnya pendidikan moral tiap individu dapat dilihat dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan tiap individu tersebut. Pendidikan moral dapat dikatakan berhasil ketika seseorang merasa bahagia ketika ia melakukan perbuatan baik dan malu ketika melakukan perbuatan buruk.

Sumber

  1. Aristotle by Stanford Encyclopedia of Philosophy
  2. Aristotle on Happiness by Psychology Today
  3. Kebahagiaan Menurut Aristoteles (Celoteh Filsafat)
  4. Menjadi Manusia: Belajar dari Aristoteles (Franz Magnis Suseno)
Related Posts
2 Comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *