The Uninhabitable Earth: Jalur Satu Arah bernama Masa Depan

0
Share

Dunia akan semakin asing, kebingungan akan semakin banyak.

David Wallace-Wells, seorang jurnalis asal Amerika Serikat pada tahun 2019 menulis buku The Uninhabitable Earth. Dia menulis, “Saya bukan aktivis lingkungan dan tak menganggap diri sendiri sebagai pecinta alam.” lalu dilanjut dengan cerita seorang anak laki-laki di Russia yang terkena anthrax yang lepas dari bangkai rusa yang sudah meleleh setelah puluhan tahun membeku dalam es. David menuliskan berita ini dua kali, di bagian “Rentetan dan Wabah Akibat Pemanasan”.

Five adults and two other children have been diagnosed with the disease, known as “Siberian plague” in Russian which was last seen in the region in 1941.” Tulis Guardian dalam beritanya pada tahun 2016. 

Lebih lanjut, Alexei Kokorin, kepala Program Iklim dan Energi WWF Russia, menjelaskan bahwa daerah kasus ini terjadi mengalami temperature abnormal yang mencapai 95F, sebuah manifestasi dari perubahan iklim.

Terdengar mengerikan? Belum selesai.

The Uninhabitable Earth dibuka dengan Bagian I yang disebut Rentetan. David menjelaskan bagaimana kita sebagai manusia yang berada pada posisi teratas rantai makanan selama ini cenderung acuh dan menganggap perubahan iklim tidak terjadi. Padahal tanda-tandanya sudah terjadi di sekitar kita.

Emisi karbon yang kita hasilkan layaknya air terjun yang terus dialiri dan memenuhi kolam bernama atmosfer bumi, hingga mungkin kita sampai di titik dimana air kolam tersebut tak lagi dapat dimanfaatkan.

Rentetan yang dimaksud kemudian diperjelas dalam bagian II, “Unsur-Unsur Kekacauan”. Dalam bagian ini, terdapat 12 poin yaitu “Panas Maut”, “Kelaparan”, “Tenggelam”, “Kebakaran”, “Bencana Tak Lagi Alami”, “Kekurangan Air”, “Laut Sekarat”, “Udara yang Tak Bisa Dihirup”, “Wabah Akibat Pemanasan”, “Ambruknya Ekonomi”, “Konflik Akibat Iklim”, dan “Sistem”

Dalam bagian Panas, David menyinggung tentang heat stroke. Kementerian Kesehatan Indonesia mendefinisikannya sebagai “sebuah kondisi dimana suhu badan meningkat dengan cepat hingga 41°C dan tubuh tak lagi dapat mengeluarkan keringat“.

Menarik jika kita melihat ke sebuah terbitan dari Centers for Disease Control and Prevention. Selama rentang tahun 1999-2010 sebanyak 8,081 kasus kematian yang berhubungan dengan panas tercatat di Amerika Serikat dengan 72% kasus atau 5.783 diantaranya disebabkan oleh paparan panas berlebihan, dan panas juga salah satu faktor yang berpengaruh dalam 28% atau 2,298 kasus lainnya.

Memasuki setengah bagian kedua dari buku The Uninhabitable Earth, bagian III “Kaleidoskop Iklim”. David memulai dengan bab “Cerita”. Menurutnya, manusia selalu diceritakan dan menceritakan berhasil survive dari satu masa ke masa lainnya. Antagonisnya selalu tokoh penjahat yang ingin menguasai dunia, protagonisnya akan menemukan cara mengalahkannya dan peradaban manusia akan selalu bertahan hidup.

David merefleksikan kebiasaan kita untuk menghindar dan mencari pihak-pihak baru untuk dituding sebagai penjahat dan pahlawan. Hal itu tergambar melalui film, dimana kita akan selalu menemukan pihak eksternal yang ingin menguasai kita, mulai dari alien, virus, monster, bahkan robot-robot dari planet lain!

Misalnya, Extinction dan The 5th Wave menghadapi alien. A Quiet Place dan Bird Box menceritakan monster yang mengambil indera kita, dan banyak film lainnya yang memunculkan pahlawan-pahlawan baru dari cerita kepunahan kita.

Kita menjadi eskapis dengan berlangganan Netflix, menyaksikan film tentang perubahan iklim dan kepunahan manusia selagi kita merasakannya langsung sekarang.

Bagian kedua yang masih berhubungan dengan “Cerita” adalah “Kapitalisme Krisis”. Menurut David, perubahan Iklim akan mempercepat dua fenomena, yaitu stagnasi ekonomi global dan lebih terkaparnya orang miskin dibanding orang kaya. Menurutnya juga, jika kapitalisme berhasil bertahan dalam kondisi perubahan iklim, maka beban iklim akan ditimpakan ke perusahaan-perusahaan dan generasi yang sudah mendapatkan untung dari merusak alam.

Satu lagi pihak yang harusnya ditimpakan beban iklim adalah kepada negara-negara yang telah mendapat untung. Namun, bayangkan dinamika politik dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Mari kita bayangkan sebuah dunia dengan bencana alam yang lebih sering sehingga kondisi-kondisi “tidak pernah dalam puluhan/ratusan tahun” sudah menjadi berita harian atau musiman. Sebuah dunia dengan ketiadaan jaminan akan keselamatan dari fenomena bencana alam.

Dalam kondisi seperti itu, stagnasi ekonomi global lebih mungkin terjadi karena negara-negara akan fokus terhadap restorasi akibat bencana di daerah masing-masing sehingga jual beli akan lebih jarang. David memberikan alternatif barter untuk ini. 

Sementara, alasan mengapa orang miskin akan lebih terkapar daripada orang kaya adalah karena ketiadaan sumber daya untuk memperbaiki dan membangun ulang ekosistem yang hancur akibat bencana alam.

Hasilnya adalah pengungsi bencana alam yang masif dan besar-besaran. Kelak kita akan memikirkan lebih banyak tentang perpindahan manusia dari satu daerah ke daerah yang lain, dan lebih rumitnya, daerah tempat perpindahan yang dituju.

It is time to develop collective resilience.” Kutip penulis dari Colette Pichon Battle dalam TEDxnya, “Climate Change is not the problem. It is the most horrible symptom of an economic system that been built for few to extract every precious value from natural resources to human labor. This system has created this crisis,…for the privilege and comfort of just a few people on the planet.

Jika kita ingin melihat contoh beban ditimpakan terhadap pihak-pihak yang sudah diuntungkan, lihatlah perjuangan Petani Kendeng yang mendemo dengan menyemen kaki mereka. Atau di negeri Paman Sam dimana 21 pemuda yang lalu dijuluki Juliana kids menuntut pemerintahan karena perusakan dan menuntut restorasi alam. Kasus ini dikenal dengan nama “Juliana vs United States” atau “Kids vs Climate”.

Dalam seperempat akhir buku, David mengajak kita untuk merefleksikan apa yang telah dilakukan dan apa yang telah kita ketahui. Sukar untuk melihat jelas apa yang berada di balik ketidakpastian perubahan iklim. Namun dengan kekhawatiran dan pengetahuan yang kita punya, kita tak bisa lagi mundur beberapa langkah ke belakang dan berharap kita tak tahu apa-apa. 

Penulis merasakan kekhawatiran ini sebab itulah aftertaste yang mungkin kita bisa dapatkan setelah membaca The Uninhabitable Earth dan mengulasnya melalui paragraf-paragraf di atas. Kita dapat merefleksikannya kedalam suara yang dapat membangun kekhawatiran lain di sekitar kita. Refleksi dari betapa bencana iklim menyentuh tiap dari kita yang sama-sama terancam.

Membaca buku The Uninhabitable Earth seperti menembakkan lampu jauh kepada jalan didepan kita. Jalur satu arah bernama masa depan yang kita semua jalani bersama-sama; sebagai satu peradaban manusia dalam satu planet yang sama.

Jika corona dianalogikan sebagai sebuah lautan yang sama namun mempunyai kapal yang berbeda-beda. Rentetan kejadian perubahan iklim nanti akan menempatkan kita bukan lagi di lautan, namun di samudra dengan hujan badai yang riuh. Akan lebih banyak hal-hal asing, akan lebih banyak kehilangan dan kebingungan.

Dibanding melemparkannya (lagi dan lagi) ke generasi mendatang atau ke teknologi ala messiah atau bahkan ke para politikus. Kita harus berhenti menghindar dan menghadapinya bersama-sama. Kita bisa meningkatkan kesadaran tentang bahaya perubahan iklim dengan membaca buku atau artikelnya, menonton dokumenter yang tersedia di internet, dan melakukan semua usaha lainnya.

Bukan karena sekadar anda sudah membaca ini atau takut akan ketersediaan makanan di meja makan anda dalam 40 tahun kedepan.

Because there’s no planet B.

Sumber

The Guardian: Anthrax outbreak triggered by climate change kills boy in Arctic Circle https://www.theguardian.com/world/2016/aug/01/anthrax-outbreak-climate-change-arctic-circle-russia diakses 1 September 2020

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: Apa Itu Stroke Heat?
http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/stroke/apa-itu-heat-stroke#:~:text=Heat%20Stroke%20merupakan%20kondisi%20paling,sudah%20tidak%20dapat%20mengeluarkan%20keringat. diakses 9 September 2020

Centers for Disease Control and Prevention: Picture of America Heat-Related Illness
https://www.cdc.gov/pictureofamerica/pdfs/picture_of_america_heat-related_illness.pdf diakses 9 September 2020

Climate change will displace millions. Here’s how we prepare | Colette Pichon Battle (TEDx Talk)
https://www.youtube.com/watch?v=8NSQYO2es3U diakses 9 September 2020

The YEARS Project: Juliana v. United States: Meet The Kids Suing Over Climate Change
https://www.youtube.com/watch?v=sd5K1ms1tOc diakses 9 September 2020

Tempo: Keseharian Demo Para Petani Kendeng Suara Aksi Semen Kaki
https://nasional.tempo.co/read/857459/keseharian-demo-para-petani-kendeng-suara-aksi-semen-kaki diakses 9 September 2020

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *