Diferensiasi, Relasionalitas, dan Fraksi: Panduan Analisis Kelas Agraria

0
Share

Analisis kelas adalah kunci dari gerakan sosial kritis. Analisis tersebut berguna untuk memandu kita dalam membaca cara kerja suatu hubungan produksi, sehingga bisa mengidentifikasi skema eksploitasi yang terjadi secara praktis. Teori, konsep, dan metode analisis kelas sudah banyak diaplikasikan oleh para akademisi dan aktivis akar rumput sejak lama untuk membaca berbagai fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita. Sayangnya, banyak dari kita, termasuk kalangan kritikus gerakan sosial (khususnya Marxian), yang masih menyalahpahami analisis kelas.

Para kritikus Marxian berpendapat bahwa analisis kelas tidak aplikatif karena kategori kelas yang dirumuskan Marx sangat abstrak dan formalis. Mereka berpendapat bahwa Marx terlalu menyederhanakan konflik, terbatas pada kelas borjuasi (pemodal) dan kelas proletariat (buruh). Penyederhanaan seperti ini bahkan masih sering kita temui pada mereka yang terlibat di gerakan sosial secara langsung. Kesalahpahaman ini tentu penting untuk kita luruskan bersama.

Maka dari itu, pada kesempatan ini, mari kita membedah seluk-beluk analisis kelas secara lebih menyeluruh. Semoga saja ini dapat berguna bagi para aktivis gerakan sosial yang hari ini sedang bergelut dengan pengorganisasian di akar rumput. 

Diferensiasi Kelas

Hal yang sentral dan tak boleh luput dalam analisis kelas adalah diferensiasi. Diferensiasi dapat dipahami sebagai lapisan yang ada dalam satu kategori kelas.

Mari ambil contoh kategori kelas “petani”. Menurut Henry Bernstein dalam Class Dynamics of Agrarian Change, petani—atau tepatnya kaum tani—tidaklah homogen atau sejenis. Di dalamnya, terdapat beragam lapisan kelas, seperti tani kaya, tani sedang, tani miskin, tani gurem, hingga buruh tani (Bernstein, 2010, p. 3-4). Gambaran kelas tersebut diperoleh dengan mengidentifikasi jumlah kepemilikan alat produksi dan kekayaan yang tidak merata di antara kelas kaum tani.

Bernstein melihat diferensiasi kelas sebagai fenomena yang dinamis dan merupakan faktor yang mempengaruhi pembangunan kapitalisme di pedesaan. Para petani kapitalis akan semakin besar karena akumulasi keuntungan yang mereka peroleh memungkinkan ekspansi penguasaan tanah. Praktik ini kemudian menggusur para petani yang lebih kecil (Bernstein, 2010, p. 2). Sebagai imbasnya, mereka yang kehilangan tanah terpaksa bekerja bagi para petani kapitalis sebagai buruh tani, atau bermigrasi ke perkotaan untuk mencari sumber penghidupan baru.

Fenomena inilah yang disebut Bernstein sebagai proletarianisasi, sebuah situasi saat para petani subsisten semakin tergusur oleh kehadiran korporasi-korporasi besar dan petani kaya yang bertransformasi menjadi petani kapitalis, sehingga mereka berubah status kelasnya menjadi buruh (Bernstein, 2010, p. 2).

Proletarianisasi bisa terjadi secara utuh atau semi. Mereka yang terkena proletarianisasi secara utuh akan menjadi kelas pekerja sepenuhnya, tanpa kepemilikan alat produksi sama sekali. Sedangkan orang-orang semi-proletar adalah mereka yang tidak sepenuhnya tercerabut dari alat produksinya sendiri, misalnya para petani yang bekerja di tanah orang lain karena terjerat hutang.

Gambaran diferensiasi kelas tidak bisa diperoleh hanya dari abstraksi teoretis, melainkan harus diperoleh dari realitas secara langsung. Ini karena diferensiasi kelas di setiap wilayah, tergantung skalanya, selalu berbeda-beda, meski tentunya juga memiliki persamaan. Kekhususan diferensiasi kelas di setiap wilayah dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti sejarah, sosiologis, budaya, gender, dan ekonomi. Meski sama-sama pernah mengalami kolonialisme, diferensiasi kelas agraria di Indonesia tentu memiliki perbedaan dengan di India yang tumpang tindih dengan sistem kasta Hindu. Bahkan, daerah-daerah di Indonesia pun memiliki diferensiasi kelas yang unik setiap tempatnya. Struktur kelas kaum tani di wilayah Jawa tidak bisa disamakan begitu saja dengan yang ada di Sumatera, Sulawesi, atau Papua. Menyadari kekhususan yang berlapis dan unik ini, analisis kelas pun harus ditentukan skalanya, mulai dari internasional, nasional, regional, atau lokal.

Meski berbeda-beda, jangan sampai menyalahartikan bahwa analisis kelas hanya berlaku di satu wilayah tertentu saja, seakan terisolasi dari struktur yang lebih besar. Sebaliknya, kita perlu menyadari bahwa diferensiasi kelas harus senantiasa dibaca juga sebagai imbas dari struktur yang lebih besar. Kapitalisme, misalnya.

Ketika mampu memahami diferensiasi, kita perlu bisa menghubungkan cara kerja eksploitasi kapitalisme dengan analisis kekhususan suatu wilayah. Dengan begitu, analisis kita bisa menjadi lebih kaya dan eksploratif.

Relasionalitas Kelas

Memahami diferensiasi kelas saja tidaklah cukup. Hal selanjutnya yang harus dianalisis adalah relasionalitas yang terbangun antara kelas-kelas.

Meski terbangun berdasarkan hierarki, kelas bukanlah entitas yang terisolasi satu sama lain. Sebaliknya, dalam setiap hubungan produksi, setiap kelas selalu berinteraksi dan berkontradiksi satu sama lain secara aktif. Analisis ini penting demi melihat cara kerja eksploitasi yang kompleks, selalu melibatkan lebih dari satu cara, dan berlapis.

Jonathan Pattenden adalah salah satu akademisi Marxian yang mengembangkan analisis relasional kelas. Dalam risetnya yang berjudul Class and Social Policy: the National Rural Employment Guarantee Scheme in Karnataka, India, Pattenden secara rinci menjelaskan bagaimana pola eksploitasi pekerja di India melibatkan interaksi kompleks antarkelas, mulai dari aktor nasional, kota, hingga desa.

Pattenden menganalisis dinamika kelas di negara bagian Karnataka, India dalam pengimplementasian bantuan sosial yang dicanangkan oleh pemerintah. Dinamika antarkelas, termasuk para elit, di setiap desa negara bagian tersebut berbeda-beda. NREGS adalah skema pekerjaan dari pemerintah nasional berdurasi 100 hari untuk para pengangguran. Program ini dicanangkan demi mengentaskan kemiskinan yang tinggi di pedesaan India. Dalam riset tersebut, Pattenden menerangkan bahwa implementasi NREGS berbeda-beda di setiap lokalitas, tergantung dinamika kelasnya masing-masing.

Di Karnataka, Pattenden mengidentifikasi bagaimana para elit desa dan petani kapitalis menjadi “penjaga gerbang” (gatekeeper) yang mencegah program pekerjaan tersebut diimplementasikan secara adil dan merata (Pattenden, 2016, p. 1). Masuknya program tersebut ke desa-desa Karnataka dimanfaatkan oleh kelas petani kapitalis untuk memperkuat kontrol dan dominasinya atas petani miskin dan buruh tani. Caranya beragam, mulai dari penundaan upah, pemberian upah rendah, hingga penambahan porsi dan jam kerja. Alasan kenapa para petani kapitalis mampu melanggengkan kontrol atas mayoritas populasi petani adalah karena mereka memiliki alat produksi, sehingga memiliki legitimasi secara politik (Ibid.). Terlebih, mereka juga sering menggunakan kekerasan sebagai siasat penundukan.

Jika dielaborasi lebih lanjut, relasionalitas juga bisa dilihat dari profesi ganda yang marak dalam dinamika kelas agraria. Prof. Sajogyo menyebut fenomena ini sebagai nafkah ganda. Nafkah ganda secara sederhana dapat dilihat ketika para petani tidak hanya bertani, tapi juga memiliki penghasilan lain di luar pertanian sebagai upaya untuk bertahan hidup (Sajogyo, 1993, p. 1). Misalnya, untuk bertahan hidup, satu rumah tangga petani kecil harus bekerja sampingan sebagai buruh lepas di perkotaan atau bekerja di lahan petani lain selain bercocok tanam secara mandiri.

Di sini, kita melihat bahwa sang petani kecil ternyata memiliki dualitas status kelas, tidak lagi sepenuhnya subsisten. Fenomena seperti ini sangat marak terjadi terlebih di tengah gelombang informalisasi sistem tenaga kerja yang memungkinkan kerja fleksibel (paruh waktu, musiman, dll.). Mereka dapat juga digolongkan sebagai kelas yang terkena semi-proletarianisasi.

Fraksi Kelas

Banyak kritikus Marxis melempar kritik bahwa teori ekonomi-politik Marxian, termasuk analisis kelas, terlalu mengedepankan determinasi ekonomi dan bersifat statis. Ini keliru, karena pada faktanya Marx melihat kelas sebagai entitas yang bukan hanya dipengaruhi oleh ekonomi saja, melainkan multifaktor, dinamis, dan selalu bersitegang.

Dalam The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, Marx memperlihatkan bagaimana kelas borjuasi pun selalu terlibat dalam pertentangan satu sama lain. Marx menyoroti bagaimana para borjuasi pemilik tanah selalu bersitegang dengan para borjuasi perkotaan yang mengancam keberadaan mereka (Marx & Engels 1954. p. 1). Pertentangan ini tidak hanya terbatas pada lapangan ekonomi, melainkan juga perebutan hegemoni politik. Inilah yang dimaksud sebagai fraksi kelas.

Fraksi kelas bukan hanya terjadi di antara kelas borjuasi, melainkan juga dalam kelas lainnya. Dalam kasus yang lebih kompleks, fraksi kelas juga bisa dibentuk oleh faktor lain; kasta, ras, gender, hingga status kultural masyarakat. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat mempengaruhi polarisasi kepentingan dan kesadaran kelas. Setiap wilayah pun memiliki karakteristiknya masing-masing. Memisahkan kelas dari keterhubungannya dengan faktor-faktor tersebut adalah sebuah kemustahilan.

Mari kita ambil India kembali sebagai contoh. Sharad Chari dalam bukunya yang bertajuk Fraternal Capital: Peasant-Workers, Self-Made Men, and Globalization in Provincial India menunjukkan bagaimana para buruh tani dari kasta gounder di Tiruppur bertransformasi menjadi kelas borjuasi perusahaan tekstil dan pakaian rajut dengan menjalin kerja sama dengan komunitas lain yang sekasta. Hal ini dilakukan melalui beragam cara, mulai dari negosiasi, bantuan orang dalam, hingga eksploitasi wewenang institusional (Chari, 2004, p. 3-4). Alhasil, mereka pun menindas para buruh tani lainnya, memberangus perlawanan, dan berkontradiksi secara vertikal. Kasus ini menunjukkan bahwa fraksi kasta dalam kelas juga memungkinkan terjadinya mobilitas sosial.

Memahami fraksi kelas akan sangat berguna untuk kita, terutama bagi para pengorganisir. Hal ini dapat memudahkan kita dalam merumuskan strategi dan taktik untuk membangun persatuan antara kelas pekerja atau tani yang seringkali terfragmentasi oleh banyak faktor, terlebih di era kapitalisme lanjut seperti hari ini yang lini produksinya sangat berlapis dengan eksploitasi yang berlipat pula. Dengan begitu, kebingungan ketika dihadapkan pada masalah konflik horizontal intrakelas bisa diminimalisasi.

Simpulan

Akhir kata, penulis berharap secarik catatan ini bisa bermanfaat bagi gerakan sosial akar rumput. Penulis menyadari keterbatasan ruang dalam kesempatan ini, sehingga penjabaran di atas perlu dipelajari lebih lanjut. Penjabaran ini tidak lebih dari sebuah pengantar awal untuk memasuki penelaahan kelas yang lebih kompleks. Semua penjabaran ini harus diuji secara nyata di lapangan. Tanpa itu, maka analisis kelas sudah dicabut dari girohnya. Wallahualam bishawab.

Daftar Pustaka:
Bernstein, Henry. (2010). Class Dynamics of Agrarian Change. Fernwood Publishing
Mezzadri, Alessandra (ed). (2020). Marx In The Field. Anthem Press
Pattenden, Jonathan. (2016). Social policy and class relations: A class-relational approach. 10.7228/manchester/9780719089145.003.0006.
Sajogyo. (1993). Strategi pengembangan sumberdaya manusia dalam mengentaskan kemiskinan, makalah dipresentasikan dalam dies natalis Ke-41, Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta tanggal 14 Juli 1993 di Jakarta.
Sharad Chari. (2004). Fraternal Capital: Peasant-Workers, Self-Made Men, and Globalization in Provincial India. Stanford University Press.
Marx, Karl. (1954) The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte. Progress Publishers.


Ahmad Thariq adalah seorang penulis dan redaktur media. Ia fokus menulis esai dan dan berbagai tulisan ilmiah lain. Tulisannya sudah banyak dimuat di berbagai media, baik cetak maupun digital. Ia juga mengajar di Ekskul Indonesia.

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *