Digitalisasi dan Kematian Institusi Pendidikan: Apa Arti Terdidik?

4
Share

Sebagai seorang pelajar yang cukup aktif di media sosial, kerap kali saya melihat memes bertebaran di media sosial, foto dan atau video lucu yang membahas tentang bagaimana video-video pembelajaran di YouTube, penjelasan materi di aplikasi pendidikan daring, dsb, jauh lebih bisa mengajar siswa-siswi. 

Berikut dapat Anda lihat contoh memes yang saya bicarakan:

Tentunya masih banyak lagi memes yang dapat saya cantumkan, tetapi saya rasa 3 foto tersebut sudah cukup mewakilkan apa yang saya maksudkan. 

Dalam beberapa kesempatan saat masih duduk di bangku SMA pula saya sendiri merasa bahwa pengulangan penjelasan materi lewat video penjelasan di YouTube atau sesederhana membaca materi yang sudah dijelaskan oleh guru lagi di internet membuat pemahaman materi lebih mendalam. 

Hal seperti ini seringkali terjadi ketika misalnya para murid merasa tidak cocok dengan gaya mengajar sang guru, kemampuan menyerap informasi yang mungkin kurang, ketidakmauan untuk fokus ke kegiatan pembelajaran, merasa sudah bisa, dsb. Faktor-faktor tersebut tidak hanya dibuat-buat melainkan merupakan suatu pengalaman yang saya dan teman-teman sebangku SMA dulu pernah rasakan.

Berkat adanya digitalisasi, ketakutan akan ketinggalan pelajaran menurun karena setidaknya, ketika siswa-siswi tidak paham di kelas pun, mereka masih bisa entah berlangganan aplikasi berbayar atau menonton video-video yang disediakan di YouTube. Semua hal menjadi lebih mudah dan kemungkinan tidak naik kelas atau mendapat nilai jelek pun dapat dihindari. Bahkan, dengan terjadinya pandemi seperti saat ini, institusi pendidikan dan para pemegang kepentingan di bidang pendidikan seperti murid, guru, orang tua murid pun semakin sering menggunakan media digital untuk menunjang kegiatan belajar dan mengajar sehingga mempercepat proses digitalisasi pendidikan.

Namun, era digitalisasi dan industrialisasi yang dianggap sebagai kultur modern memunculkan masalah baru di bidang pendidikan. Sebelum membahas lebih dalam asumsi-asumsi dan argumen, saya ingin menyuguhkan satu pertanyaan kepada para pembaca: Hampir semua orang tahu bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek yang krusial dalam proses humanisasi, tetapi, apa sesungguhnya arti terdidik?

Dalam artikel ini saya akan membahas tentang 1.) Bagaimana industrialisasi dan digitalisasi memunculkan masalah baru dalam ranah pendidikan 2.) Arti pendidikan menurut Peter Bieri dan Driyarkara 3.) Kematian Institusi Pendidikan 

Bagaimana Globalisasi, Industrialisasi, dan Digitalisasi Mengubah Arah Dunia?

  • Industrialisasi

Fenomena yang dikatakan industrialisasi dimulai dari revolusi industri di Inggris yang dimulai sekitar pertengahan abad 18[1]  ketika penemuan-penemuan seperti mesin tenun dan mesin uap muncul. Persediaan batu bara di Inggris yang melimpah, bahan mentah yang melimpah dari daerah jajahannya, pertumbuhan penduduk yang eksponensial, keadaan yang damai di dalam negara menjadi beberapa faktor penentu kenapa revolusi industri besar-besaran bisa terjadi di Inggris. Negara yang awalnya begitu tergantung pada produksi lahan pertanian dan peternakan berubah menjadi raksasa industri yang menyebabkan banyak pengangguran dan konflik dalam negara. 

Munculnya mesin tenun contohnya mempermudah produksi tekstil sehingga produksi yang masif dalam waktu yang singkat pun tentu saja dapat dilakukan. Mesin-mesin ini kemudian didistribusikan ke negara-negara Eropa lainnya sehingga mempercepat proses industrialisasi di Eropa. Tentu revolusi ini juga datang dengan konsekuensi bahwa banyak orang akan entah kehilangan pekerjaan, atau pemotongan upah sehingga banyak orang yang tidak bisa menghidupi keluarganya lagi.

Berbagai percobaan untuk menghancurkan industri telah dilakukan oleh para pekerja-pekerja kelas bawah, seperti menyabotase mesin-mesin pabrik, melaksanakan demo, hingga membakar pabrik yang berujung pada tentu saja penangkapan oknum-oknum tersebut. Sang raksasa tak bisa dihentikan. Kesenjangan sosial semakin terjadi. Kecemasan sosial semakin marak. 

Pemerintah Jerman yang masyarakatnya juga mempertanyakan kesejahteraannya di era revolusi industri muncul dengan asuransi sosial yang terdiri dari asuransi kesehatan(1883), asuransi kecelakaan kerja(1884), dan juga asuransi cacat dan dana pensiun(1889),[2] dengan harapan bahwa kecemasan bisa mereda. Di sisi lain, para pebisnis pun juga berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan sosial dari masyarakat dengan cara mendirikan komplek khusus pekerja, mendirikan sekolah di komplek perumahan tersebut sehingga menciptakan kondisi yang “aman” untuk para pekerja.

Namun, tentu saja kondisi aman itu tidak bertahan lama. Revolusi industri, seperti yang kita tahu, tidak hanya terjadi sekali. Dalam 3 abad terakhir bahkan telah terjadi 4 kali revolusi industri. Bahkan kabarnya pun, negara-negara seperti Jepang dan Amerika telah perlahan bergerak ke arah revolusi industri 5.0. 

Masyarakat Tersier dan Revolusi Urban

Mesin yang semakin efektif dan mampu menggantikan pekerjaan berat manusia kemudian menggiring para pemilik perusahaan untuk melakukan PHK massal mempertimbangkan saingan yang bisa menawarkan harga yang lebih murah karena ongkos produksi yang dapat dipangkas. Tak perlu memberikan upah makan, tak perlu membayar asuransi, dsb. 

Dengan adanya otomasi, tenaga fisik manusia makin lama akan semakin tidak dibutuhkan, sehingga peluang untuk bekerja pun menurun drastis apabila orang hanya mengandalkan kekuatan fisiknya. Dalam arti lain, otomasi membuat pasar tenaga kerja menaikkan kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan. Mereka tidak lagi membutuhkan pekerja yang bermodalkan kesiapan untuk melakukan pekerjaan monoton dan berat, sehingga lapangan pekerjaan tidak lagi tersedia untuk mereka yang memiliki latar belakang pendidikan yang “cukup”.

Jean Fourastié, seorang ekonom Perancis, pernah mengembangkan hipotesis dalam bukunya yang berjudul “Le Grand Espoir du XXe siècle,” dalam bahasa Indonesia “Harapan Besar Abad ke-20,” bahwa sektor ekonomi terbagi menjadi 3: Sektor primer (pertanian), sektor sekunder (industri), dan sektor tersier (jasa), dan kita secara progresif bergerak ke arah peradaban tersier, dimana lapangan pekerjaan mayoritas tersedia dalam bentuk jasa. 

Konsep sektor tersier sendiri pertama kali dikemukakan oleh Allan Fisher pada tahun 1939 untuk memahami transformasi ekonomi dan perubahan permintaan masyarakat yang tidak lagi sekadar bahan mentah dan barang-barang hasil industri, melainkan juga jasa.

Tentu teori Fourastié dan Allan Fisher ini tidak bisa secara tepat menggambarkan perubahan sektor-sektor ekonomi di jaman sekarang mengingat bahwa konsep-konsep yang mereka kemukakan tersebut sudah ada hampir 1 abad yang lalu, akan tetapi, poin penting dalam bagian ini adalah bagaimana industrialisasi dan otomasi menjadi menuntut masyarakat untuk tidak hanya memiliki latar pendidikan yang semakin tinggi untuk bisa bersaing, melainkan juga kemampuan untuk berpikir luas dan beradaptasi.

Industrialisasi menaikkan permintaan kualitas pendidikan di lapangan kerja sehingga mencari pekerjaan tidak lagi seindah dulu. Namun, globalisasi dan digitalisasi menyebabkan disrupsi yang lebih masif lagi pada dunia pendidikan sehingga menjadi terdidik tidak lagi hanya soal sekolah dan ilmu pengetahuan. Lagi-lagi, apa arti terdidik? 

  • Digitalisasi dan Globalisasi

Sesungguhnya, globalisasi sudah terjadi berabad-abad lalu ketika manusia sudah bisa  melintasi lautan dan samudra untuk entah berpindah tempat, berdagang, atau menyebarkan ideologi. Hal ini kemudian menghasilkan entah suatu budaya baru melalui akulturasi atau juga asimilasi. Tidak hanya itu, tentu tanpa adanya globalisasi mungkin Indonesia tidak mengenal konsep agama-agama yang kita akui keberadaannya sekarang. Hanya saja, proses persebaran kultur dulu tidak terjadi secepat sekarang mempertimbangkan lamanya persebaran informasi di zaman dahulu.

Kini dengan adanya digitalisasi, proses globalisasi kemudian terjadi secara pesat dan berujung pada cepatnya persebaran informasi yang ada di dunia. Beberapa abad yang lalu, untuk menyampaikan suatu kabar suatu kerajaan harus menggunakan kurir agar pesan tersebut bisa tersampaikan. Kini informasi bisa kita terima secepat kedipan mata. Jangankan sebuah pesan, sepersekian detik setelah saya memencet tombol “unggah” di wordpress, semua orang di seluruh dunia yang memiliki akses internet bisa mengaksesnya detik itu juga.

Di satu sisi tentu ini merupakan suatu hal yang luar biasa karena dunia bisa semakin cepat melaju ke arah yang lebih maju lagi ketika informasi bisa disampaikan secepat kedipan mata. Seperti yang sudah disampaikan di pendahuluan tulisan, digitalisasi sangatlah membantu kehidupan manusia terlebih dalam konteks pendidikan. Beberapa dekade yang lalu orang yang membutuhkan pengetahuan tentang informasi tertentu harus pergi ke perpustakaan dan mencari buku terkait topik yang ia cari, itu juga kalau perpustakaan di sekitarnya lengkap, bagaimana jika tidak?

Sekarang, dengan hanya bermodalkan katakanlah lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah kita sudah bisa pergi ke warnet untuk mengakses internet selama satu jam. Entah mengunduh jurnal, menggunakan mesin pencari seperti google dan bing, mencari contoh gambar untuk sketsa bangunan, dan masih banyak lagi. Sekarang pun telepon genggam merupakan suatu hal yang bukan lagi barang mewah yang hanya bisa dibeli oleh orang kaya dan elit karena para produsen gawai pintar sudah mampu memproduksi gawai dengan harga yang sangat terjangkau apalagi untuk masyarakat menengah kebawah. 

Bahkan, seperti yang sudah tertulis di pendahuluan artikel, hampir semua materi pendidikan sudah dapat diakses secara gratis di kanal-kanal pendidikan seperti YouTube, dan beberapa organisasi non-komersial yang mungkin tidak bisa disebutkan di sini. Namun, tentu saja akan selalu ada institusi-institusi yang mengkomersialisasi jasanya sebagai penyedia materi tambahan.

Dalam proses kontemplasi saya, muncul sebuah pertanyaan yang cukup krusial sehingga pertanyaan tentang arti terdidik terpikirkan: Dengan sebegitu mudahnya akses informasi, kenapa masih ada orang yang percaya dengan hoax? Kenapa tidak semua orang “belajar”? Lalu, bila mereka memanfaatkan digitalisasi ini, disrupsi macam apa yang kemudian hadir?

Mau dan Tidak mau

Dapat dipahami bahwa informasi yang hadir pun tidak sekadar berasal dari sumber-sumber yang terpercaya, melainkan juga sumber-sumber yang tidak jelas integritasnya. Ratusan, ribuan, bahkan milyaran informasi beredar di internet setiap detiknya. Kita tentu saja tidak bisa mengontrol peredaran informasi tersebut. Akan lucu jadinya apabila suatu negara berusaha mengeluarkan ratusan miliar untuk memblokir situs-situs porno dan hoaks apabila masyarakatnya bisa dengan satu ketukan menggunakan VPN. Tidak perlu informasi yang hoaks pun, masyarakat Indonesia sendiri tidak memiliki ketertarikan terhadap berita-berita yang memuat informasi yang informatif, lebih cenderung ke arah informasi yang penuh dengan clickbait.

Menurut saya, kesenjangan secara umum tidak terjadi semata-mata karena perbedaan status sosial dan jumlah kekayaan. Konten-konten edukasi yang bisa digapai dengan mudah di internet menjadi suatu pertanyaan kenapa masih banyak orang yang tidak terdidik. Kenapa masih banyak orang yang begitu saja percaya suatu judul berita yang menggemparkan atau bahkan orang yang tetap mempercayai berita-berita yang terkesan bombastis, luar biasa, atau mungkin mind-blowing


Kesenjangan tidak lagi terjadi karena perbedaan strata sosial ataupun status ekonomi, melainkan karena ketidakmauan untuk belajar. Ketidakmauan untuk menjadi lebih. Ketidakmauan untuk tahu. Orang boleh disuguhkan jutaan kemungkinan untuk menjadi seorang yang hebat, seorang yang berpengetahuan, seorang yang terdidik. Namun, tanpa adanya keinginan untuk mencapai hal tersebut, tentu saja miliaran kemungkinan pun tak akan diambil. 

Akan tetapi, kemahuan untuk belajar pun tidak semerta-merta menciptakan seseorang yang terpelajar. Selama beberapa belas tahun saya hidup, hampir selama 15 tahun guru-guru selalu mengajarkan untuk “belajar,” “ketahuilah ini, ketahuilah itu,” tapi untuk apa tahu? Kenapa kemenahuan itu penting? Murid seperti diajarkan untuk menulis di secarik kertas. Memang tidak pernah ada propaganda untuk tidak boleh tidak hanya menulis di secarik kertas, hanya saja sistem pendidikan selama ini seakan-akan terlalu mengglorifikasi untuk menulis di secarik kertas tanpa memberitahu bahwa kertas bisa juga digunakan untuk menggambar, mewarna, digunakan untuk berbagai kerajinan tangan seperti origami, dan masih banyak lagi.

Peter Bieri tentang Pendidikan

Dalam bahasa Jerman, ada dua kata untuk pendidikan: “Ausbildung” dan “Bildung.” Bagi Peter Bieri, proses pendidikan “Bildung” berarti suatu proses pembentukan diri yang terjadi secara internal, sedangkan proses pendidikan “Ausbildung” merupakan proses pembentukan diri dari lingkungan. Dalam konteks “Ausbildung”, manusia berusaha untuk membisakan diri untuk melakukan sesuatu, sedangkan dalam konteks “Bildung”, manusia menjadi. Dalam pidatonya, Peter Bieri menyampaikan bahwa penjelasan tentang pendidikan terbagi menjadi beberapa aspek: Pendidikan sebagai Orientasi Dunia, Sarana Pencerah, Artikulasi, Pengenalan Diri, Penentuan Diri, Sensibilitas Moral, dan terakhir Pengalaman Dramatis.

Secara singkat teori Peter Bieri tentang “Bildung” ingin menjelaskan tentang bagaimana pendidikan membuka cakrawala baru bagi setiap manusia yang bisa mengaksesnya, pendidikan tidak pernah sekadar mengandung ilmu pengetahuan, tidak pernah sekadar mendapatkan informasi baru, tetapi juga bagaimana informasi baru itu bisa dicerna manusia untuk dicerna dan diaplikasikan untuk mengenal dunia, untuk menakar, memproporsi, menimbang, dan mengidentifikasi sesuatu secara rinci.

Pendidikan juga digunakan sebagai sarana pencerah untuk melawan fenomena disrupsi informasi yang terjadi di era digitalisasi ini. Bagaimana seorang yang terdidik akan menggunakan ilmu yang sudah didapatkan untuk memilih dan mengidentifikasi informasi mana yang dapat dikatakan benar atau setidaknya bisa dipercaya. Dengan begini seorang yang terdidik mengartikulasikan informasi yang telah ia dapat dengan benar sehingga tidak terjadi kesalahan dalam mengambil tingkah dalam mempersepsikan suatu informasi.

Sich zu bilden” juga berarti peran pendidikan dalam pengenalan diri dan penentuan diri atau “making a man.” Lewat pendidikan manusia mengenal dirinya sendiri dengan informasi-informasi yang telah dipelajarinya, lewat biologi manusia mengetahui fungsi tubuhnya, lewat matematika manusia belajar untuk mengaplikasikan logika dalam hidupnya, psikologi mengajarkan bahwa seorang manusia tidak sekadar badan dan otak melainkan memerlukan juga kesehatan mental, kesehatan jiwanya, filosofi mengajarkan manusia untuk berpikir kritis, dan lain sebagainya. Melalui pengetahuan-pengetahuan itu, pendidikan memberikan informasi bahwa tidak setiap orang menyukai subjek tertentu, bahwa ketidaksukaan atau ketidakmampuan untuk memahami sesuatu merupakan sesuatu yang wajar dan harus diakui, karena itu merupakan bagian dari diri kita. 

Mata pelajaran di sekolah bukan merupakan pendidikan tetapi pendidikan berisikan hal-hal tersebut, kalau boleh dikatakan, mata pelajaran merupakan logistik dari pendidikan yang mungkin merupakan konsep abstrak. Mereka adalah sarana dalam tujuan menjadi terdidik. Untuk mengenal sesuatu, manusia tentu memerlukan sesuatu yang sudah dikonseptualisasi sedemikian rupa sehingga istilah demi istilah muncul sehingga manusia bisa mengekspresikan dirinya sendiri dan akhirnya bisa mengenal lebih dalam dirinya sendiri. Pengenalan diri ini kemudian membawa manusia pada penentuan diri dimana ia bisa melihat perbedaan dirinya dengan orang lain, bukan mengkotak-kotakkan, tetapi lebih kepada bagaimana manusia bisa melihat nilai dirinya, tanpa membandingkan orang lain tentunya. 

Lewat semua pengetahuan yang dimiliki manusia, tidak hanya ia memahami apa yang terjadi di sekitarnya, mengenal dirinya dari luar-dalam, tetapi ia juga bisa beradaptasi dan memposisikan dirinya dengan baik di tengah-tengah masyarakat atau bisa dikatakan ia bisa bertingkah laku dengan sensibilitas moral yang ia punya. Ia bisa mentolerir apa yang dilakukan orang lain dengan tidak hanya mengerti atau memafhumkan apa yang dilakukan orang lain sebagai sesuatu yang alien atau asing, tetapi orang memahami kenapa orang bisa melakukan hal yang berbeda dengan apa yang dilakukan dirinya, entah dalam hal beragama, bertingkah laku, berpikir, dan masih banyak lagi. 

Melalui pendidikan, manusia mengenal dunia dengan baik lewat ilmu pengetahuan di sekolah, mencerna informasi dengan baik, berpikir kritis, mengenal dirinya sendiri luar dalam, dan bisa melihat nilai yang tertanam di dalam dirinya. Manusia bisa berempati dengan aksi-aksi yang dilakukan orang lain dengan pula memberikan batas yang jelas antara dirinya dan lingkungan. Pendidikan merupakan suatu konsep yang begitu kuat yang perlu diajarkan kepada manusia muda. Bukan sekadar mempelajari ilmu, tetapi juga proses humanisasi ke arah manusia yang seutuhnya.

Driyarkara tentang Pendidikan

Bagi Driyarkara, manusia dalam perkembangannya melewati dua fase, hominisasi dan humanisasi. Hominisasi adalah proses dimana seorang individu sadar bahwa ia merupakan manusia yang memiliki hal-hal unik dibandingkan hewan lainnya, ia sadar akan eksistensinya sebagai hewan yang unik, sedangkan lewat proses humanisasi manusia mendapatkan kemanusiaannya.

Driyarkara memandang pendidikan sebagai suatu struktur yang selalu berubah dari waktu ke waktu memperbaharui dirinya untuk menyesuaikan dengan perubahan zaman. Maka dari itu untuk menjelaskan konsep humanisasi dan hominisasi beliau menitikberatkan fenomena pendidikan sebagai kunci dari proses mendidik itu sendiri.

Sebelum lebih jauh mendalami konsep fenomena pendidikan Driyarkara, ada baiknya kita mendalami terlebih dahulu arti fenomena itu sendiri. Fenomena berasal dari bahasa Yunani φαινόμενον fainómenon, artinya tampak. Namun, berbicara tentang fenomena pendidikan, adakah suatu kejadian yang menampakkan diri sebagai kegiatan mendidik?

Fenomenologi yang dianut oleh Driyarkara sangat erat kaitannya dengan fenomenologi persepsi Merleau-Ponty yang menitikberatkan suatu individu sebagai konstruktor dunia. Dalam arti lain, sesuatu yang terjadi tidak akan berarti suatu hal tanpa adanya konseptualisasi dari sang pengamat. 

Bagi sang profesor, fenomena pendidikan bukanlah sesuatu yang menampakkan dirinya sendiri atau menyatakan dirinya sendiri, yang realitasnya terletak dalam dirinya sendiri, atau dalam bahasa Jerman bukan merupakan sesuatu yang “an sich,” tetapi fenomena pendidikan merupakan suatu kejadian yang diberikan arti. Ayah yang sedang membaca karena ia senang membaca bukan merupakan kegiatan mendidik, tetapi secara tidak langsung, anak yang masih berada pada umur imitatif dimana mereka mengikuti perlakuan yang diikuti orang terdekatnya, akan mengikuti kegiatan yang dilakukan ayahnya tersebut. 

Ayah yang membaca di samping anaknya yang melihatnya bukan merupakan fenomena pendidikan karena tidak ada yang nampak di situ menurut fenomenologi persepsi(ayah memang membaca tidak mempersepsikan dirinya sebagai seorang pendidik, dan anak tidak merasa bahwa ia sedang dididik; meskipun seiring berkembangnya zaman kita bisa memahami bahwa menunjukkan budaya membaca di depan anak adalah salah satu cara untuk mengajarkan anak untuk tertarik membaca, tapi tentu saja tanpa adanya penelitian tentang ini kita tidak akan tahu bahwa hal tersebut merupakan fenomena pendidikan)

Lewat konsep fenomenologi, Driyarkara ingin menciptakan suatu arahan yang memanusiakan manusia, dalam arti lain, karena manusia memberi arti suatu momen yang terjadi, fenomenologi dalam konteks pendidikan menjadi sebuah sarana untuk mengarahkan Dasein sehingga termanusiakan.

Melengkapi teori Peter Bieri yang menitiktumpukan pendidikan diri pada pengolahan internal manusia, proses pendidikan Driyarkara membawa pihak eksternal ke dalam proses pemanusiaan manusia muda sebagai fasilitator dan pembimbing. 

Apa maksudnya? 

Seorang individu yang dalam proses humanisasi atau proses pendidikan merupakan subjek di dalam prosesnya (Peter Bieri) dibantu oleh pihak-pihak ketiga seperti keluarga dan guru (Driyarkara) untuk mencapai proses pendidikan yang utuh.

Menurut pandangan Driyarkara, pendidikan merupakan perbuatan fundamental dalam artian perbuatan untuk mengarahkan, membentuk, dan menentukan kehidupan, dan yang kedua adalah kemurnian proses pendidikan yang terjadi, dimana proses mendidik bukan merupakan menciptakan individu yang sesuai dengan kemauan fasilitator, melainkan individu yang bisa berpikir sendiri, yang bisa mengidentifikasi nilainya, yang bisa menentukan dirinya sendiri. Seperti cinta yang murni, proses pendidikan tidak berangkat dari kepentingan sang fasilitator, melainkan berangkat dari kepentingan sang subjek dari proses humanisasi atau seseorang yang dicintai.

Namun, proses humanisasi yang berangkat dari kepentingan yang dicintai bukan berarti memberikan segala yang diingini sebagai bentuk perbuatan mendidik, tidak juga secara stato-sentris di mana kepentingan sang subjek digeneralisasi sedemikian rupa sehingga ia kehilangan keunikannya. Proses pendidikan menggunakan pendekatan behavioral sehingga dengan bantuan fasilitator subjek dapat mengembangkan personanya sendiri.

Sekolah sebagai institusi pendidikan dalam pengajaran tidak boleh didasarkan pada pandangan pragmatis yang berujung pada pembentukan seorang subjek sehingga sesuai dengan lapangan kerja yang ada di situasi saat itu. Padahal relevansi pandangan pragmatis tersebut harus dipertanyakan mengingat dunia yang memiliki arus perubahan yang cukup drastis. Maka dari itu, pengajaran di sekolah seharusnya menggunakan pandangan inkulturatif-progresif yang memasukkan manusia muda ke dalam kebudayaan yang berisikan nilai-nilai fundamental manusia sehingga ia dapat menggunakannya untuk mendidik dirinya sendiri menjadi manusia yang berbudaya

Lewat kebudayaan ini, manusia muda dididik agar tidak menjadi alien di lingkungannya sendiri. Dalam arti bahwa pengenalan budaya memberikan manusia muda perasaan bahwa ia berada di “tempatnya” di “lingkungannya”, perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan akurat, tetapi kita bisa tahu kita ada di rumah ketika budayanya kita kenali dari lahir, dan kita tumbuh dewasa didampingi dengan budaya tersebut.

Mengupas pendidikan dari dua tokoh tersebut sangatlah menarik, terutama karena mengetahui bahwa pendidikan tidak hanya berputar pada pengetahuan tentang dunia, tetapi pengetahuan tentang diri sendiri dan bagaimana cara menggunakan pengetahuan itu untuk mengembangkan diri. Melihat tujuan murni pendidikan, muncul sebuah keresahan tentang keberlanjutan institusi pendidikan di tengah disrupsi digitalisasi. 

Beberapa waktu lalu saja institusi pendidikan sudah terancam dengan adanya media pembelajaran daring yang memberikan substitusi guru sehingga peran guru sebagai pengantar informasi dianggap sebagai aspek sampingan dari pembelajaran di sekolah, lalu bagaimana jadinya bila digitalisasi begitu marak seperti sekarang?

Kematian Institusi Pendidikan

Dari tahun ke tahun kurikulum selalu diubah sedemikian rupa sehingga metode pengajaran bisa menyesuaikan perkembangan zaman. Namun, apakah perubahan itu selama ini efektif? Semua perubahan yang dilakukan terlihat hanya meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih besar lagi di mata siswa. Sarana-sarana pendidikan diubah dengan berbagai macam cara, tetapi menurut saya ada satu aspek krusial yang justru malah tertinggal dalam perubahan-perubahan yang terjadi ini.

Bahwa siswa adalah subjek dari proses pendidikan. Bukan raja, bukan penguasa, bukan seseorang yang selalu diikuti kehendaknya, tetapi subjek dalam artian ia memiliki hak dan tanggung jawab atas pilihannya menjadi siswa. Ia berhak untuk mendapatkan pengajaran, tetapi ia juga bertanggung jawab untuk mau diajari oleh fasilitator atau sang guru. 

Tentu ketika orang menjadi subjek, ia bisa melakukan apa saja yang ia mau, katakan saja hal ini seperti hak, seseorang bisa melakukan apa saja yang ia mau, tetapi selama proses menjadi terdidik, orang tidak mungkin menjadi terdidik dengan sendirinya karena suatu persimpangan dengan manusia lain pasti terjadi, dan ketika kedua belah pihak sama-sama memiliki hak, tentu di satu titik tertentu akan terjadi suatu benturan antara hak satu sama lain, maka dari itu, meskipun sang subjek bisa melakukan apa saja yang ia mau dengan risiko yang tentu saja mengikuti perilaku subjek tersebut.

Untuk membawa konsep abstrak ini ke dalam konteks, bayangkan Anda adalah seorang murid, atau apabila Anda adalah seorang murid, pikirkanlah kasus ini dengan baik:

“Saya bisa berlarian di dalam kelas dan mengganggu proses pembelajaran, bertengkar, mencuri, dan banyak hal lainnya, karena saya adalah subjek dari proses ini.” Namun, setiap aksi pasti memiliki konsekuensinya, “saya bisa …, tapi …,” yang ingin saya tekankan pada bagian subjek ini adalah, bukan karena kita merupakan subjek dari proses pendidikan diri kita sendiri, melainkan justru karena kita merupakan subjek dari proses pendidikan kita maka dari itu kita tidak bisa semena-mena mengambil aksi.

SMA saya mengajarkan tentang pendidikan yang bertanggung jawab, dan dalam menerima slogan ini beberapa teman saya pun menanggapinya dengan, “tidak apa-apa nakal, yang penting bertanggung jawab.” Padahal, proses pendidikan yang bertanggung jawab itu tidak pernah hanya dimulai dari ketika kita melaksanakan aksi yang kita lakukan, melainkan proses bertanggung jawab sudah dimulai dari ketika pertimbangan untuk mengambil suatu aksi muncul. Bertanggung jawab bukan hanya berarti menanggung konsekuensi yang ada di akhir aksi kita, melainkan juga mempertanggungjawabkan aksi yang akan dilakukan dengan mempertimbangkan aksi yang akan dilakukan. Orang tidak perlu bertanggung jawab dalam konteks menanggung beban atau risiko yang sudah terjadi ketika ia sudah bertanggung jawab dengan memikirkan matang-matang aksi yang akan ia lakukan.

Institusi pendidikan di sini menurut saya kurang menegaskan proses pendidikan yang sesungguhnya, dimana sekolah bukan sekadar suatu hal formalitas belaka atau malah sekadar tempat untuk mendapatkan ilmu murni, tetapi juga tempat pendidikan yang membentuk dan menghasil subjek-subjek yang bisa bertanggung jawab atas pemikiran dan perilakunya, yang bisa mengembangkan diri melalui ilmu-ilmu murni yang diajarkan di sekolah.

Transformasi media pengajaran(bukan pendidikan) menjadi sebuah keresahan utama saya ketika fungsi institusi pendidikan tidak lagi dianggap sebagai bagian yang vital dalam proses pendidikan manusia muda, tetapi menjadi suatu aspek sampingan dari proses pendidikan. Institusi pendidikan yang kurang menjelaskan tujuan dari pendidikan itu sendiri mengancam institusi itu untuk bunuh diri. Seperti badan yang lupa dengan tujuannya diciptakan.

Tujuan yang tidak pernah ditekankan semenjak awal proses pendidikan dan datangnya digitalisasi pendidikan bisa berujung pada manusia muda yang tidak mengenal lagi apa arti terdidik, hanya mengerti bagaimana cara mengerjakan soal, dan mengerti banyak ilmu pengetahuan. Tentu digitalisasi bisa memenuhi pendidikan secara eksakta, tetapi bagaimana dengan aspek sosial?

Apakah digitalisasi mengharuskan redefinisi dari pendidikan? Atau pendidikan memiliki tujuan yang fundamental dan bahkan pengajaran jarak jauh pun dapat menggantikan pengajaran tatap muka?

Sistem dan mekanisme tentu akan terletak pada pemegang kekuasaan di kemudian hari, tetapi satu hal yang terpenting adalah, segala teknologi yang dibuat oleh manusia tidak boleh menggantikan hubungan yang ada di antara manusia itu sendiri. Institusi pendidikan tidak boleh membiarkan dirinya sebagai fasilitator dianggap sebagai fasilitator sampingan dengan tidak mengajarkan arti sesungguhnya pendidikan dan menjadi terdidik. 

Pendidikan adalah dinamika seseorang dengan dirinya, dan juga berbagai lapisan masyarakat mulai dari keluarga, lingkaran pertemanan, guru, organisasi, masyarakat, pemerintah, menggunakan ilmu pengetahuan yang diajarkan kepadanya entah itu eksakta, sosial, maupun religius, dan tentunya bagaimana ia bisa memposisikan diri sebaik mungkin, tanpa nilai dirinya di tengah lautan masyarakat.

Referensi:

  1. https://www.grin.com/document/109860
  2. Jost Cramer/G. Zollman, Der Staat und die soziale Frage, in: Wirtschaft und Gesellschaft, Bd. 2, Klett, Stuttgart o. J., M 102
  3. Schwarzmüller, Tanja & Brosi, Prisca & Welpe, Isabell. (2017). Führung 4.0 – Wie die Digitalisierung Führung verändert. 10.1007/978-3-662-53202-7. 
  4. Bieri, Peter. Wie Wäre es, Gebildet zu Sein. 2005. Bern
  5. Driyarkara. Driyarkara tentang Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius, 1980.
  6. Sudiarja, Budi Subanar, Sunardi dan Sarkim (editor). Karya Lengkap Driyarkara; Esai-Esai Pemikiran yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya. Jakarta: Gramedia, 2006.
  7. Adian, Donny Gahral. Pengantar Fenomenologi. Depok: Penerbit Koekoesan, Depok 2010.

Related Posts
4 Comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *