Mak Ompreng si Cempreng dan Pandangan Feminisme

0
Share

Surastri Karma Trimurti atau akrab kita kenal dengan S.K Trimurti mungkin asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal tokoh nasional perempuan satu ini memiliki peran besar dalam perjuangan Indonesia, khususnya di dunia para penyambung lidah rakyat. Ia banyak menulis dalam berbagai surat kabar dan juga aktivis perempuan yang cukup terpandang.

Seperti dimuat dalam jurnal ilmiah karya Ipung Jazimah yang berjudul S.K. Trimurti: Pejuang Perempuan Indonesia. Trimurti lahir pada 11 Mei 1912 di Desa Sawahan, Boyolali, Karesidenan Surakarta. Ayahnya bernama R.Ng. Salim Banjaransari Mangunsuromo dan ibunya bernama R.A. Saparinten Mangunbisomo. Ayah dan ibunya merupakan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta. S.K.Trimurti merupakan salah satu perempuan berpendidikan karena ia merupakan anak seorang abdi dalem sehingga ia memiliki akses pada dunia pendidikan lebih dari perempuan-perempuan biasa seusianya. Trimurti bersekolah di Sekolah Guru Putri, kemudian menempuh pendidikan di Noormal School dan AMS di Surakarta, melanjutkan studinya di Universitas Indonesia jurusan Ekonomi hingga meraih gelar doktoralnya.

S.K. Trimurti merupakan salah satu wanita yang maju pada masanya, tentu hal ini karena ia punya akses pendidikan yang baik. Menurutnya keterlibatan perempuan dalam organisasi politik formal seperti yang ia lakoni adalah bentuk perwujudan kesadaran politik perempuan (Ratih, 2009:29). Perempuan tak harus melulu di ranah domestik. Perempuan juga punya kapasitas dan kapabilitas untuk tampil pada ranah publik serta menjadi pembuat keputusan dan kebijakan. Pada saat itu seorang perempuan dianggap tabu jika mengikuti aktivitas politik maupun organisasi yang kebanyakan dilakukan oleh laki-laki. Namun, baginya seorang perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki untuk memajukan diri baik dalam hal akademis maupun sosial. Karena itu sembari mengajar di sekolah dasar di Bandung, Surakarta dan Banyumas. Trimurti juga aktif menjadi anggota Rukun Wanita juga kerap mengikuti berbagai rapat-rapat yang diadakan oleh Budi Utomo cabang Banyumas (Chodori, 1993:205).

S.K. Trimurti juga beberapa kali keluar masuk penjara, salah satunya pada tahun 1936 hal ini tidak lain karena masalah politik dan pamflet-pamflet provokasi yang ditulis dan disebarkannya, ia dipenjara Bulu Semarang. Sekeluarnya dari penjara, S.K. Trimurti meninggalkan pekerjaannya sebagai guru beralih menjadi wartawan dan tetap menjadi seorang aktivis. Sejak tahun 1930-an itu tidak sedikit wartawan yang sekaligus adalah tokoh pergerakan. Tirto Adi Surjo, Mas Marco, Haji Misbach adalah wartawan-wartawan yang menggunakan dunia jurnalisme sebagai medan perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Terlebih sosok S.K. Trimurti sebagai perempuan, yang pada zaman itu kerap kali dipandang sebelah mata. Lalu pada masa pendudukan Jepang karena tulisan-tulisannya yang dianggap menyudutkan tentara Jepang, S.K.Trimurti dijebloskan ke penjara, kali ini di Blitar.

Keberhasilan Trimurti menulis di urat kabar Fikiran Rakyat sekaligus menjadi pintu gerbangnya yang pertama menjad penulis di surat kabar. (Trimurti, 2007:4) Di tahun-tahun berikutnya, mesin tik hampir tidak pernah lepas dari genggamannya. Saking cintanya padadunia tulis-menulis, Trimurti bahkan menerbitkan majalah. Sejak 1935, hampir setiap tahun ia terus membidani kelahiran majalah dan surat kabar. Mulai dari Bedug, Terompet, dan Suara Marhaeni. Setelah menikah dengan Sayuti Melik, SK. Trimurti bahkan mendirikan majalah sendiri yang bernama Pesat. Sayangnya, majalah ini terpaksa ditutup ketika Jepang berkuasa.

S.K. Trimurti juga bersahabat baik dengan Sukarno, ia berpartisipasi aktif menulis dan juga berpolitik dalam Partai Indonesia (Partindo – partai pecahan PNI pimpinan Sukarno). (Trimurti, 1986:116). “Saya sendiri yang mau masuk partai politik itu pada tahun 1933. Waktu itu saya berada di Bandung. Saya berguru pada Bung Karno, belajar politik pada beliau,” tulis Trimurti dalam Gelora Api Revolusi yang disunting oleh Colin Wild dan Peter Carey (1986: hlm. 116).

Pasca kemerdekaan, S.K. Trimurti memilih untuk menjadi anggota Partai Buruh Indonesia, bahkan kemudian menjadi ketuanya (Trimurti, 1986:119). Selain PBI, ia juga aktif di BBW (Barisan Buruh Wanita) sekaligus ia adalah ketuanya. BBW aktif memberikan kursus-kursus politik kepada kaum perempuan. Saat menjadi Menteri Perburuhan, S.K.Trimurti giat menjalankan tugasnya. Ia berhasil melahirkan Undang-Undang Perburuhan yaitu Undang-Undang Kecelakaan No. 33 tahun 1947. Selain itu Kementerian Perburuhan pimpinan S.K.Trimurti juga berhasil menyusun Undang-Undang Kerja yang baru disahkan pada masa Kabinet Hatta tahun 1948. Perhatiannya terhadap pekerja perempuan sangat besar, sehingga Undang-Undang Perburuhan yang baru itu memuat beberapa pasal yang berkaitan dengan posisi perempuan. Diantaranya yang berkaitan dengan jam kerja perempuan. Perempuan dilarang dipekerjakan pada malam hari kecuali perawat dan bidan. Kebijakan tersebut berhubungan dengan kondisi pada waktu itu yang masih rawan. Bahkan, ia juga mengeluarkan hak cuti haid bagi buruh perempuan (Chudori, 1993:229). Perhatiannya terhadap kaumnya memang sangat besar. Contoh lainnya seperti pada peringatan hari ibu tahun 1947 di alun-alun Yogyakarta bersama dengan Presiden Soekarno, ibu negara Fatmawati, tokoh pergerakan perempuan Sri Mangunsarkoro, dan tokoh perempuan lainnya, S.K. Trimurti ambil bagian. Bagi S.K.Trimurti, perempuan adalah bagian dari kemerdekaan bangsa Indonesia sehingga setiap perempuan wajib untuk mengisi kemerdekaan dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya (Kedaulatan Rakyat, 22 Desember 1947).

Puncak dari keikutsertaan S.K.Trimurti dalam organisasi perempuan adalah saat dirinya bersama dengan beberapa teman seperjuangannya mendirikan organisasi wanita yang dinamakan Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar) (Chudori, 1993:230). Gerwis merupakan fusi dari berbagai organisasi perempuan yaitu Gerakan Wanita Rakyat Indonesia Kediri, Persatuan Wanita Sedar Surabaya, Rukun Puteri Indonesia Semarang, Persatuan Wanita Sedar Bandung, dan Persatuan Wanita Murba Madura (Soebagijo, 1982:195)

Selama menjadi bagian dari Gerwis (yang kemudian berganti nama menjadi Gerwani), Trimurti banyak berkontribusi. Namun, tentu saja dalam keorganisasian banyak perbedaan pendapat. Khususnya saat Gerwani menjadi sangat dekat dengan PKI, menurut Trimurti hal ini menjadikan Gerwani tidak lagi berjalan sesuai visi-misinya. Pandangan Trimurti lebih pada usaha-usaha feminisme, namun dengan dekatnya Gerwani pada PKI, hal ini semakin mengikis citra tersebut. Dekatnya PKI dengan Presiden Soekarno juga semakin menekan Gerwani untuk tidak banyak mengkritik Soekarno, khususnya masalah poligami.

Meskipun kecewa dengan keputusan Gerwani yang mendekat ke PKI, namun Trimurti aktif tetap mengampanyekan ideologi Gerwani melalui surat kabar. Sejak tahun 1960, ia aktif menulis di Harian Rakjat (surat kabar PKI) dan di Api Kartini (jurnal milik Gerwani) dengan nama pena Mak Ompreng. Menurut Saskia Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan (2010:341), kolom Mak Ompreng ditulis dari perspektif ibu rumah tangga paruh baya dari kelas bawah. Trimurti membawakan Mak Ompreng dengan gaya bahasa rakyat yang sederhana tapi sangat tajam dan sarkas. Ia pun tak jarang menyembur kelakuan para pejabat, bahkan mengkritik Presiden. “Kolom Mak Ompreng yang dimuat di Api Kartini maupun Harian Rakjat merupakan satu-satunya tempat (bagi Gerwani) untuk mengkritik Presiden Sukarno secara terbuka,” tulis Wieringa. Dalam karyanya, ia tak melulu menulis masalah politik, namun juga menulis tentang sosial-ekonomi, wanita, dan perburuhan di Kedaulatan Rakyat, Majalah Gema Angkatan 45, Majalah Suara Perwari, Majalah Pradjoerit, Harian Nasional, dan Majalah Revolusioner.

Majalah Api Kartini adalah gelanggang penulisan bagi wanita-wanita kiri pada zamannya. Api Kartini menjadi bacaan yang sangat relevan pada saat itu, majalah ini memberi dimensi lain serta sudut pandang perempuan yang tidak pada umumnya. Pembicaraan tentang kemerdekaan perempuan dari laki-laki mendapat tempatnya lagi. Ketika Mak Ompreng merupakan nama pena S.K. Trimurti, ia banyak menuliskan mengenai pandangannya baik tentang perempuan maupun feminisme dalam Majalah Api Kartini. Ialah penulis paling feminis baik dalam Api Kartini ataupun Harian Rakjat.

Kolom-kolomnya mulai terbit awal 1960 sampai akhir 1961. Karakter tulisan Mak Ompreng kocak tajam, sarkas, dan berbicara dari sudut seorang ibu tua dari lapisan bawah. Persahabatannya dengan Soekarno terlebih dalam banyak diskusi politik istana, membuatnya tak gentar untuk tetap mengkritisi sang Proklamator menurut pandangan feminisnya secara terbuka melalui kolom tulisannya.

Ini merupakan terjemahan yang dipersingkat dari kolom pertama Mak Ompreng, yang terbit bertepatan dengan Hari Kartini 1960, yang mengkritiki pelantikan parlemen baru di Istana:

Mak Ompreng piker sungguh sangat bagus memperingati Hari Kartini. Tapi apakah kaum laki-laki itu benar-benar mengerti tentang hak-hak kaum wanita?Tentu saja apabila laki-laki tampil di atas panggung.. aduh Mak! Aksinya! Mereka berpidato berapi-api, mendorong kaum wanita supaya meneruskan perjuangan, karena mereka mempunyai hak yang sama. Yaitu, kalua laki-laki bisa jadi sopir, maka wanita juga bisa. Kalau laki-laki bisa memanjat pohon kelapa, wanita pun demikian pula. Tapi … di dalam rumah? … (Disebutnya tugas-tugas yang hanya wanita saja harus menunaikan) … Sebenarnya semuanya ini mengenai masyarakat. Lihatlah kartu-kartu undangan, juga undangan ke istana. Kartu-kartu itu selalu saja terbaa “Bapak Anu dan Istri”. Lho! Apakah pegawai Republik hanya laki-laki saya? Aneh! Andaikata seorang pegawai wanita diundang ke Istana, misalnua Nyonya Umi. Apakah ia jua diharap supaya datang Bersama istrinya? Wah, bisa-bisa polisi akan memandangnya sebagai perkara yang mengganggu kesopanan umum: wanita kawin dengan wanita …”

AK April 1960:9

Ini adalah salah satu contoh cemprengnya Mak Ompreng dalam menuturkan opini-opini ke-feminisannya. Kolom-kolom lainnya banyak mengulas mengenai pertentangan sejumlah fungsi laki-laki dan perempuan, memecahkan ketidaktentuan yang inheren dengan berbagai keuntungan privilese, lalu ada juga tingkah laku Ibu Negara, masalah undang-undang, Mak Ompreng banyak mempertentangkan cara-cara berpikir tradisional. Namun, adapula Mak Ompreng juga mengkritisi kebiasaan Barat, yang justru menjadi semakin lazim, dalam menyapa perempuan dengan nama suami mereka.

Ketika saya bertamu ke rumah seorang teman, istri duta besar, ia mempersilahkan saya “silahkan duduk, Bu Acep”. Saya terkejut! Sejak kecil saya selalu dipanggil Ompreng. Benar suami saya Namanya Acep, memang. Tapi mengapa saya harus dipanggil dengan nama itu? Hanya di Barat kaum wanita dipaksa berganti nama. Padahal di sana pun ratu-rayu tidak menyukainya. Ratu Juliana (dari Negara Belanda) tidak pernah dipanggil Nyonya Bernhard, bukan?

AK Oktober 1960:19

Mak Ompreng bukanlah satu-satunya manifestasi keyakinan akan kemerdekaan Gerwani. Pada masa ini, isu mengenai hak dan kewajiban perempuan sebagai ibu rumah tangga sekaligus bagian dari kaum revolusioner merupakan topik yang seksi untuk didiskusikan. Hal ini layaknya realitas yang memang dialami oleh banyak anggota Gerwani ataupun Perwari, sehingga topik-topik seperti ini seperti brainstorming bersama dalam menyikapinya dan refleksi dari setiap kejadian yang terjadi melalui sudut pandang keperempuanan. Kolom-kolom yang Mak Ompreng tulis rasanya jauh lebih terasa selayaknya kondisi perempuan dalam masyarakat, bahasa dan ideologinya sederhana dipahami, ia tidak menggunakan kata ataupun kalimat ‘ndakik-ndakik’ dalam menuliskan pemahamannya. Hal ini merupakan suatu hal yang tidak mudah, sebagaimana kita tahu bahwa paham feminisme merupakan suatu paham yang seringkali sulit dipahami, karena memang sangat jarang diajarkan terlebih feminisme banyak sekali cabang-cabangnya. Bahasa yang sederhana memudahkan pembaca awam mengerti dan memahami isi yang ingin penulis sampaikan. Sehingga pembaca akan merasa lebih relate dengan bacaan tersebut. Iniah ciri khas penulisan S.K. Trimurti dalam kolom-kolom dengan nama pena Mak Ompreng.

Nasih S.K. Trimurti setelah Gerwani dibubarkan dan terjadinya ontran-ontran politik 1965, ia dan suaminya Sayuti Melik berhasil selamat melewati masa yang serba tidak menentu itu. Walaupun demikian, keduanya juga ikut andil dalam menekan dan mengkritisi Soeharto dalam kaitannya dengan HAM para tapol 65’. Perjuangan Trimurti untuk Indonesia khususnya dalam bidang jurnalisme dan kepenulisan membuat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengabadikan nama SK. Trimurti sebagai anugerah atau penghargaan dengan nama Trimurti Award. Anugerah ini bertujuan untuk melestarikan semangat dan prinsip perjuangan Trimurti baik kepada aktivis perempuan atau jurnalis perempuan. Nama Trimurti sendiri dipilih karena dinilai sebagai salah satu tokoh kemerdekaan yang dipandang gigih memperjuangkan kebebasan pers, kebebasan berekspresi dan hak kaum tertindas terutama perempuan. Baik melalui karya-karya jurnalistik maupun lewat pengabdian sebagai aktivis perempuan dan politik.

Sumber:

Chudori, L.S. (1993). SK. Trimurti dari Politik ke Kebatinan dalam Memoir Senarai Kiprah Sejarah. Diangkat dari Majalah Tempo. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Wieringa, Saskia E. (2010). Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pasca Kejatuhan PKI. Yogyakarta: Galang Press.

Trimurti, S.K. Sukarno Si Pria dalam Wild, Colin dan Carey, Peter (penyunting). (1986). Gelora Api Revolusi: Sebuah Antologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.

Trimurti, S.K. 95 Tahun S.K Trimurti Pejuang Indonesia. (Jakarta: Yayasan Bung Karno, 2007)

Ratih, I G.A.A. (2009). Jejak-Jejak Perbincangan Perempuan dalam Sejarah dalam Jurnal Perempuan 63.

Suwondo, Tirto dkk. (2016). Antologi Biografi Pengarang Sastra Jawa Modern. Jakarta: Adi Wacana.

Soebagijo I.N. (1982). SK. Trimurti Wanita Pengabdi Bangsa. Jakarta: Gunung Agung.

“Wanita Pendorong Masyarakat”, Kedaulatan Rakyat, 22 Desember 1947.

Jazimah, Ipong. “S.K. Trimurti: Pejuang Perempuan Indonesia”. Sejarah dan Budaya. Tahun Kesepuluh, Nomor 1. Juni 2016

Kandhani, Edi. (2020). “Surastri Karma Trimurti, Pejuang yang Bersenjatakan Mesin Tik”. https://bosscha.id/author/edikhandani/, (diakses pada 5 Januari 2021)

https://radiobuku.com/2013/04/kartiniberapi-warisan-gerakan-kiri-yang-dipadamkan/ (diakses pada 5 Januari 2021)

https://aji.or.id/read/lainnya/680/sk-trimurti-award-2017.html (diakses pada 5 Januari 2021)

https://www.apikartini.org/2020/06/15/sk-trimurti-pejuang-perempuan-indonesia.html (diakses pada 5 Januari 2021)

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *