Marx dan Keterasingan dalam Pekerjaan

0
Share

Seringkali kita mendengar ungkapan-ungkapan penyemangat yang disampaikan ketika menjelang hari kerja. Sedangkan ketika akan datang hari libur, bukan ungkapan penyemangat yang kita dengar, melainkan ucapan selamat. Kedua hal ini menyiratkan bahwa hari kerja seolah merupakan hari-hari berat yang penuh tantangan, penuh dengan perjuangan sehingga harus dihadapi dengan rasa semangat. Sebaliknya, hari libur adalah hari yang seolah penuh ketenangan, kedamaian, dan kenikmatan sehingga perlu disyukuri dan orang yang mendapatkannya sepantasnya diberi ucapan selamat.

Secara sepintas barangkali hal tersebut terlihat normal. Nyatanya, pandangan bahwa pekerjaan adalah beban tidak muncul dengan serta merta. Bagi Karl Marx, cara pandang ini ada karena manusia telah terasing dalam pekerjaannya. Menurut Marx, dengan bekerja manusia seharusnya merasa senang karena baginya, bekerja adalah hakikat atau fitrah manusia. Dengan bekerja manusia mendapatkan identitas dirinya yang membedakannya dari makhluk lain. Dengan bekerja, seorang manusia menjadi manusia yang sesungguhnya. Melalui bekerja manusia membuat dirinya menjadi nyata.

Akan tetapi, saat ini manusia telah terasing dari hakikat pekerjaannya. Marx memahami bahwa keterasingan manusia adalah disebabkan oleh pekerjaan yang dijalaninya di bawah sistem ekonomi kapitalisme. Menurut Marx, keterasingan dalam pekerjaan adalah sumber segala keterasingan yang dialami manusia. Untuk dapat mengerti mengenai hal tersebut, kita perlu terlebih dahulu memahami filsafat pekerjaan Marx.

Bekerja sebagai Hakikat Alamiah Manusia

Pembahasan berangkat dari lingkungan hidup manusia, yaitu alam. Alam adalah sesuatu yang paradoks bagi manusia. Di satu sisi ia dibutuhkan agar manusia dapat hidup, tapi di sisi lain ia juga merupakan sesuatu yang asing bagi manusia, karena manusia tidak dapat memenuhi kebutuhannya dengan mengambil langsung dari alam. Manusia harus bekerja dengan mengolah alam terlebih dahulu agar kebutuhannya (sandang, pangan, papan) dapat terpenuhi. Berbeda dengan manusia, binatang tidak perlu bekerja. Mereka telah mendapati segala kebutuhannya dari alam di sekitarnya.

Memang binatang juga harus “bekerja” seperti mencari makan dan membangun sarang. Akan tetapi kegiatan tersebut dilakukannya atas dorongan naluriah semata, yaitu ia bekerja hanya untuk memenuhi apa yang sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan manusia, menurut Marx, adalah makhluk yang bekerja secara bebas dan universal.

Bebas karena ia tidak hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan langsung (misalnya, membuat makanan bukan untuk dimakan, tetapi untuk dijual), dan universal karena di satu sisi ia dapat menjadikan berbagai sarana untuk satu tujuan (berbeda dengan burung yang membangun sarang dengan jerami atau rumput kering, manusia dapat membangun rumah dengan kayu, semen, batu, es, tanah, dll.) dan di sisi lain ia dapat mengumpulkan berbagai tujuan dalam satu sarana (misalnya batu yang oleh manusia dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti senjata, bahan bangunan, patung, pengganjal, dll.). Dari sinilah kemudian, pekerjaan telah membedakan manusia dari binatang dan menunjukkan hakikatnya sebagai makhluk yang bebas dan universal.

Bekerja sebagai Sarana Objektivasi Manusia

Dengan bekerja manusia bisa menjadi manusia yang sesungguhnya, ia mampu membuat dirinya menjadi nyata. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Seperti yang telah dituliskan sebelumnya, dengan bekerja manusia mengolah alam. Misalnya, seorang koki. Ia mengambil sesuatu dari alam berupa bahan-bahan makanan. Dari bahan tersebut kemudian ia olah menurut resep tertentu hingga akhirnya menjadi suatu hidangan. Bentuk alam yang diambil berupa bahan-bahan makanan telah diberi bentuk manusia berupa hidangan. Bahan-bahan makanan yang telah menjadi hidangan mencerminkan kehendak dan kemampuan si koki.

Melalui bekerja, manusia mengambil bentuk alami dari suatu objek untuk kemudian diberikan “bentuk manusia”nya. Dengan demikian, manusia mengobjektivasikan dirinya ke alam melalui pekerjaannya. Dari hasil kerjanya ia melihat siapa identitas dirinya, mengerti apa kemampuan dan bakatnya, serta memahami dirinya. Melalui bekerja, manusia menjadi nyata. Dengan kata lain, bekerja merupakan sarana bagi manusia untuk mengetahui siapa dirinya dan kemudian mengekspresikannya ke dalam hasil pekerjaannya.

Hal yang sama juga terjadi pada semua jenis pekerjaan, bagi seniman yang keterampilannya tercermin dari karya seninya, bagi ilmuwan yang kemampuannya terlihat dari hasil penelitiannya, bagi pekerja bangunan, ibu rumah tangga, dan lain sebagainya. Makna dari pekerjaan tercermin dari perasaan bangga atas hasil kerjanya. Semua jerih payah selama bekerja tak akan berarti ketika berganti dengan rasa gembira saat kita melihat hasil kerja kita, karena di dalam hasil kerja itu kita melihat diri kita.

Bekerja dan Identitas Manusia sebagai Makhluk Sosial

Selain menjadi hakikat dasar manusia sebagai makhluk hidup dan sarana ekspresi (objektivasi)  manusia, bekerja juga menjadi sarana pemenuhan kebutuhan sosial manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia tak hanya memiliki kebutuhan pribadi (sandang, pangan, papan), tetapi juga kebutuhan sosial, seperti kebutuhan untuk berinteraksi, kebutuhan untuk diterima dalam suatu lingkungan, kebutuhan untuk diakui oleh sesama, dan lain sebagainya. Melalui bekerja, kebutuhan ini terpenuhi.

Sebagai makhluk sosial artinya manusia akan selalu membutuhkan orang lain dalam hidupnya karena mereka tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Dengan kata lain, untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia membutuhkan hasil pekerjaan orang lain. Kita bergantung pada pekerjaan orang lain, dan orang lainpun bergantung pada pekerjaan kita.

Hasil pekerjaan kita dapat memenuhi kebutuhan orang lain. Orang itupun merasa senang karena kebutuhannya terpenuhi. Kita juga merasa senang karena mengetahui bahwa orang lain menerima dan menghargai hasil kerja kita. Kita merasa dihormati ketika hasil kerja kita diterima orang lain. Kita kemudian merasa keberadaan kita berarti karena kita mengetahui bahwa kita penting bagi orang lain. Pekerjaan dengan demikian telah menjadi sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan sosialnya.

Pekerjaan yang Mengasingkan

Jika demikian halnya, maka pekerjaan seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi manusia. Melalui bekerja manusia menjalankan hakikat alamiahnya sebagai makhluk yang bebas dan universal, melalui bekerja manusia mengobjektivasi dirinya sehingga ia dapat berekspresi dan menjadi nyata, serta melalui bekerja manusia dapat terpenuhi kebutuhan sosialnya. 

Akan tetapi, kenyataan berkata sebaliknya. Banyak orang yang merasakan bekerja sebagai beban berat. Hal ini terjadi karena, menurut Marx, dalam sistem kapitalisme, orang tidak bekerja sesuai dengan hakikatnya (yaitu bebas dan universal) tetapi mereka bekerja karena terpaksa, yaitu bekerja sebagai syarat untuk bisa hidup. Akibatnya, pekerjaan tidak mengembangkan mereka, tetapi malah mengasingkan, baik dari dirinya sendiri maupun lingkungan sosialnya.

Keterasingan dari diri sendiri ada pada tiga segi, yaitu terasing dari hasil pekerjaannya, terasing dari aktivitas kerjanya, dan terasing dari hakikatnya sebagai manusia. Hasil pekerjaan seharusnya membuat manusia bangga karena dari hasil kerjanya itu tercermin siapa dirinya. Dari produk pekerjaannya ia mengobjektivasi dirinya, mengekspresikan kecakapan dan kemampuannya. Tetapi dalam sistem kapitalisme, pekerja upahan tidak memiliki hasil pekerjaan. Produknya ialah milik pabrik atau orang yang mempekerjakan mereka. Bahkan seringkali orang bekerja tanpa melihat produk hasil kerjanya. Akibatnya, apa yang dikerjakan tak memiliki makna apapun bagi dirinya. Inilah keterasingan pertama, yaitu keterasingan manusia dari hasil kerjanya.

Semakin si pekerja menghasilkan pekerjaan, semakin ia, dunia batinnya, menjadi miskin

Marx dalam Magnis-Suseno (2016: 100)

Karena hasil pekerjaan tak lagi berarti bagi manusia, maka aktivitas kerjapun juga turut kehilangan maknanya. Bekerja yang sejatinya sarana manusia memenuhi hakikatnya yang bebas dan universal telah berubah menjadi sesuatu yang dilakukan karena paksaan dan tuntutan. Manusia tidak lagi bekerja atas dasar dorongan batin yang bebas, tetapi harus menerima pekerjaan apapun yang diberikan oleh pemberi kerja. Bekerja bukan lagi dilakukan atas dasar kebutuhan si pekerja, tetapi sebaliknya, pekerja harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup di luar pekerjaannya. Seperti kata ungkapan populer, bukan lagi makan untuk hidup, tetapi hidup untuk (mencari) makan. Inilah segi keterasingan yang kedua, yaitu keterasingan dari aktivitas bekerjanya.

Karena pekerjaan adalah hakikat manusia, maka dengan memperalat pekerjaan hanya untuk bertahan hidup, secara tidak langsung manusia telah memperalat dirinya sendiri. Dalam sistem kapitalisme, bekerja tidak lagi mengembangkan manusia, tetapi malah memiskinkan. Semakin ia bekerja semakin ia harus “menjauhi” identitas dirinya. Bekerja bukan lagi tempat yang bisa digunakannya untuk mengobjektivasi dirinya. Bekerja bukan lagi sarana untuk ia dapat memahami siapa dirinya dan mengekspresikannya ke dalam hasil pekerjaannya. Bekerja bukan lagi tempat di mana manusia bisa menjalankan hakikatnya yang bebas dan universal. Inilah segi ketiga keterasingan dalam pekerjaan, yaitu keterasingan manusia dari hakikatnya sebagai manusia.

Situasi keterasingan tersebut pada dasarnya ialah sebab sistem kerja upahan yang jamak ditemui dalam ekonomi kapitalisme. Dalam sistem kerja upahan, orang bekerja demi mendapatkan gaji semata, bukan bekerja untuk pekerjaan itu sendiri, bukan bekerja untuk pengembangan diri. Sedangkan untuk dapat hidup, orang membutuhkan uang, dan untuk mendapatkan uang orang harus bekerja sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh majikan atau pemberi kerja. Akhirnya, orang bekerja dengan terpaksa.

Akibatnya, baik aktivitas bekerja maupun hasil dari pekerjaan itu sendiri tidak ada hubungannya sama sekali dengan diri si pekerja. Demi mendapat uang untuk bertahan hidup, si pekerja memperalat kegiatan hakikinya (yaitu bekerja). Ia memperalat dirinya sendiri hingga kemudian ia menjadi terasing dari hakikatnya.

Tanda dari telah adanya keterasingan adalah kediktatoran uang. Manusia tak lagi bertindak untuk sesuatu yang bernilai pada dirinya atau untuk kebutuhan sesama, tetapi untuk uang. Selama tindakannya menghasilkan uang (meskipun tindakan itu mengasingkan manusia dari hakikatnya) maka tindakan itu akan dinilai berharga, sebaliknya, ketika sebuah tindakan tidak menghasilkan uang (meskipun tindakan itu dapat mengembangkan diri manusia) maka ia dipandang sebagai sesuatu yang sia-sia.

Borjuasi telah menanggalkan anggapan mulia terhadap setiap jabatan yang selama ini dihormati dan dipuja dengan penuh ketaatan. Ia telah mengubah dokter, advokat, pendeta, penyair, sarjana menjadi buruh-upahannya yang dia bayar

Marx & Engels

Situasi keterasingan inilah yang menyebabkan kita lebih menyukai liburan dibanding bekerja. Dalam pekerjaan yang malah menjauhkan manusia dari hakikat dirinya, maka saat di mana manusia dapat merasa nyaman dan menjadi dirinya sendiri ialah ketika ia tidak bekerja. Sesuatu apapun itu jika tidak sesuai dengan apa yang telah menjadi hukum dasarnya pasti menghasilkan hal yang buruk.

Tentunya pemikiran Marx ini bukan hadir tanpa komentar. Kendati demikian, terlepas dari segala kritik yang ada, menarik untuk melihat kecaman Marx pada pekerjaan yang dipaksakan yang mengakibatkan munculnya keterasingan. Hal ini menunjukkan dasar etika yang melandasi pemikiran Marx, yaitu bahwa manusia bernilai pada dirinya sendiri dan merupakan hal yang salah manakala manusia diperalat atau memperalat dirinya demi kepentingan produksi, uang, atau bahkan demi keberlangsungan hidupnya sendiri.

Referensi:

Manifesto Partai Komunis – Karl Marx & Friedrich Engels
Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (2016) – Franz Magnis-Suseno

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *