Sadari Kematian

0
Share

I.

Kematian: sebuah realitas tak terbantahkan. Kalau mau dibahasakan menjadi masalah: sebuah masalah tanpa solusi. Sebagian besar masalah lain berpenyelesaian, namun tidak untuk kematian. Semua manusia, makhluk hidup, pada dasarnya hidup untuk kemudian mati. Ini mengakibatkan lahirnya beberapa pertanyaan, seperti “Mengapa harus hidup, kalau toh pada akhirnya akan mati?” (yang diajukan Albert Camus, dan tidak akan dibahas pada tulisan ini) dan “Mengapa harus mati, kalau hidup itu enak?”

Para konglomerat di Silicon Valley, seperti Peter Thiel (salah satu pendiri PayPal), yang memiliki harta material tak terbatas, memilih untuk melawannya. Dengan pola pikir “solusionistis” mereka, mereka menginvestasikan uangnya dalam penelitian untuk mendapatkan hidup abadi, dengan regenerasi sel, penggantian organ rusak, dll (Harari 2017: 29). Definisi mati dan hidup dimaknai—atau direduksi—sebagai definisi fungsional biologis. Mati dianggap sebagai sebuah masalah biologis, yang dapat dilawan. Kata Peter Thiel, “I think there are probably three main modes of approaching [death]. […] You can accept it, you can deny it or you can fight it. i think our society is dominated by people who are into denial or acceptance, and I prefer to fight it.

Yang dikatakannya benar, sekaligus konyol. Tentu saja masyarakat kita didominasi oleh orang-orang yang menolak dan menerima kematian begitu saja, sebab seluruh umat manusia, kecuali mereka penguasa sumber daya, tidak (akan pernah) memiliki sumber daya untuk mendapatkan kesempatan hidup abadi yang disokong oleh teknologi tersebut. Lagi pula, sekadar eksperimen pikiran sederhana: kalau kematian dianggap sebagai masalah biologis yang dapat ditanggulangi oleh solusi hidup abadi, apakah hidup abadi benar-benar merupakan solusinya? Sesuatu bisa disebut solusi bila hal tersebut menyelesaikan masalah-masalah serupa lainnya, yakni kematian seluruh manusia. Pertanyaannya: apakah kalau semua orang imortal, atau mungkin amortal, apakah ada ruang untuk mengada secara abadi tersebut? Hal semacam itu nampaknya tidak menjadi buah pikiran utama, sebab ideologi dibaliknya jelas menyiratkan hilangnya konsep keterbatasan (finitude) dengan berangan-angan untuk mencapai ketidakterbatasan. Ketidakterbatasan umur secara tersirat mensyaratkan ketidakterbatasan ruang, sesuatu yang konon katanya, teknologi akan berikan melalui penjelajahan ruang angkasa. 

Satu implikasi menarik lainnya dari hidup abadi tersebut dapat ditarik dari kata Woody Alen: “I don’t want to achieve immortality through my work. I want to achieve it by not dying.” (Ibid.: 33). Artinya: mungkinnya keabadian hidup menyebabkan konsep warisan (apapun itu—karya, budaya, harta, kata, pikiran) dapat dipertanyakan, seiring terindividualisasinya kegiatan pewarisan yang tadinya terjadi pada bidang generasional.

II.

Dampak mungkinnya hidup abadi akan amat dahsyat, bila hal tersebut benar-benar akan berhasil. Filosofi, etika, dan wacana lainnya jelas akan terdampak. Namun, tulisan ini tidak akan membahas hal itu lebih dalam lagi, sebab tulisan ini dimaksudkan untuk menyasar kita semua, yang tidak segila dan sekaya para konglomerat perusahaan teknologi itu, yang paling tidak di abad ini masih akan mati—mengingat, kalau pun benar terjadi, teknologi untuk hidup abadi baru akan tuntas secara hipotesis di tahun 2200 (Ibid.: 28). Mari mulai membahas kematian dengan menelaah, atau lebih tepatnya mengkritisi, pandangan solusionistis para konglomerat teknologi tersebut secara analitis. 

Barangkali, sebenarnya mati bukanlah sebuah masalah—yang terhadapnya dapat diberikan sebuah solusi. Memandang mati sebagai sebuah masalah berangkat dari pertanyaan yang, katakanlah, tidak produktif atau bahkan salah. Yakni: Mengapa kita harus mati, kalau hidup itu enak?; yang kemudian ditindaklanjuti dengan: Bagaimana caranya agar kita tidak mati, supaya kita dapat menikmati hidup selamanya? Wittgenstein mungkin akan mempertanyakan dan menyanggah pertanyaannya dengan mengatakan bahwa mati bukan sesuatu yang dapat ditanggulangi seperti masalah-masalah lainnya: penggunaan kata “menanggulangi kematian” atau “mati sebagai masalah” merupakan kesalahkaprahan cara pikir. Namun, entah apa yang akan Wittgenstein katakan, kalau ia masih hidup sekarang dan tahu bahwa sains telah memformulasikan kalimat pertanyaan tersebut, dan bahkan membangun proyek saintifik untuk menjawabnya. Maka, anggaplah proyek penanggulangan kematian itu tidak berhasil, atau tidak (atau belum) akan kita nikmati keberhasilannya, dan pertanyaannya seharusnya berubah menjadi: Bagaimana mati dapat membuat hidup menjadi lebih hidup—atau bermakna?

Pun demikian, tak dapat dipungkiri, kenyataan mutlak akan kematian diri sendiri—lain cerita dengan kematian orang lain—tidak dianggap penting terutama di dunia modern, di mana kita tinggal saat ini. Pada dasarnya, kesadaran manusia dalam sebuah masyarakat haruslah diisi dengan kesibukan, pikiran, refleksi, hiburan, maupun hal lainnya (Luhmann, tentang autopoesis kesadaran). Refleksi kematian tentu juga merupakan salah satunya. Kita tahu di tradisi Toraja, sampai sekarang, orang yang mati tak langsung dikubur, melainkan dibiarkan tinggal di rumah dan dilayani laiknya orang yang masih hidup. Itu suatu tradisi yang salah satunya bertujuan untuk membuat kita dapat membayangkan, bila suatu saat kita berada di posisi orang yang mati itu. Montaigne—yang akan dibahas lebih banyak di bagian selanjutnya—memberikan contoh dari masyarakat Mesir Kuno, yang di setiap festivalnya pasti terdapat seseorang yang mengangkat potret orang mati sambil berteriak, bahwa hadirin harus minum banyak dan bersuka cita sebelum akhirnya mati seperti orang yang ada pada potret itu (Montaigne 2004: 28). Contoh lain dibawa oleh Foucault yang mengklaim bahwa di Eropa Zaman Pertengahan, kuburan selalu terletak di tengah kota, di samping gereja (Foucault [1967]: 181). Dan tentu masih banyak contoh lainnya yang pada intinya menyiratkan, bahwa mengingat kematian melalui kehadiran mereka yang sudah mati, merupakan hal yang lumrah, bahkan esensial, pada masyarakat pramodern.

Marginalisasi refleksi akan kematian pada masyarakat modern disebabkan oleh banyak faktor. Hidup di dunia modern jauh lebih mudah, sebab kontingensi kehidupan telah jauh tereduksi oleh teknologi dan infrastruktur yang menyembuhkan dan mencegah hal-hal yang menyebabkan kematian: sesuatu yang oleh Foucault disebut biopolitik (Foucault [1976]: 243). Bandingkan kehidupan peradaban manusia dengan kehidupan di hutan, di mana setiap hari pembunuhan satu spesies oleh spesies lainnya merupakan sebuah kewajaran. Faktor dipinggirkannya posisi kuburan, yang diklaim Foucault dimulai semenjak abad ke-19 di Eropa, berakibat bahwa “each person began to have the right to his little box for his little personal decomposition“, juga membuat kita jauh dari kehadiran orang-orang mati (Foucault [1967]:181). Relasi sosial dan komunikasi antarsesama makin intens akibat adanya jejaring sosial berbasis internet—belum juga membicarakan soal berita dari level lokal, nasional, maupun internasional yang langsung tersambung ke tiap-tiap pribadi—amat menyibukkan kesadaran manusia modern (Sloterdijk, tentang media massa), juga menggeser perhatian akan kematian dan mengonsentrasikannya pada masa kini (current affair). Faktor lainnya adalah masyarakat kita sekarang juga dijangkiti “ideologi” penikmatan (enjoyment) yang membuat tiap-tiap individu menggeser perhatiannya ke momen-momen spesial dan hal lainnya yang dapat dinikmati, seperti konsumsi, makan di restoran, menginap di hotel mahal, jalan-jalan, dan sebagainya (Zizek, tentang ideologi); dengan kata lain, sebuah “ideologi” yang mendewakan hidup, tempat kenikmatan dunia. 

Tentu, bukan berarti kita—manusia modern yang berada dalam masyarakat yang memiliki ciri-ciri tersebut—lantas tak dapat memikirkan soal kematian. Buktinya, kita semua masih berziarah, mengunjungi kerabat atau sahabat yang telah meninggal. Namun hubungan terhadap kematian tetap tak seintens dahulu, dan pemaknaan ziarah juga tidak selalu mengarah pada penghayatan kematian diri sendiri, namun berfokus pada mendoakan arwah yang sudah mati. Akhirnya, selepas ziarah selesai, kita kembali melupakan bahwa hidup merupakan “komoditas terbatas” (Beck 2015) dan suatu hari kita akan mati. Manusia modern menuangkan perhatiannya sepenuhnya kepada hidup, tanpa mengingat akhir dari hidup, yakni tiada. 

Salah satu akibat buruknya ialah rasa ketakutan eksistensial (anguish, anxiety) yang dialami seseorang menjelang kematiannya. Kita dapat mempelajari hal tersebut dari filsuf Herbert Fingarette, yang di penghujung usianya (97 tahun) menyadari ketidaksiapannya menghadapi kematian. Katanya, “I still want to hang around. I don’t know the basic reason why I should want to [live] or […] be afraid of [death].” (Hasse 2020)

Jadi, apa akar permasalahannya? 

Bisa dikatakan, masalahnya terletak pada cara menghadapi kematian secara negatif. Artinya, kematian dianggap sebagai sebuah ancaman negatif, sebagai akhir dari hidup, penikmatan, karir, karya, dan seterusnya, yang lalu melahirkan pikiran-pikiran yang pada sumbu ekstremnya menjelma menjadi pikiran para konglomerat Silicon Valley. 

III.

Menganggap kematian sebagai ancaman yang membuat kita takut atau ingin melawannya, menandakan sikap negatif dalam menghadapi kematian. Jika kita berpegang pada pertanyaan utama dalam tulisan ini (“Bagaimana mati dapat membuat hidup menjadi lebih hidup atau bermakna?”) maka kita sedang memikirkan cara menghadapi kematian secara positif. Alih-alih menganggap kematian sebagai ancaman, kita memikirkan bagaimana dengan kematian, kita bisa meraih manfaat untuk hidup kita. Sebelum masuk ke contoh-contoh bagaimana beberapa filsuf menghadapi kematian secara positif di bagian selanjutnya, ada baiknya kita meninjau secara eklektik beberapa pemikiran filosofis mengenai kematian yang laiknya memberi argumentasi untuk tak menganggap kematian secara negatif.

Pertama-tama, kematian tidak menyakitkan, paling tidak buat kita sendiri. Kata Wittgenstein, “Death is not an event of life. Death is not lived through” (Wittgenstein [1922]: penggalan teks nomor 6.4311). Sesuatu itu menyakitkan bila kita merasakannya. Namun, ketika kita mati, apa yang kita rasakan? Tiada. Sebab, merasakan merupakan suatu proses yang terjadi dalam keadaan hidup. Maka, seseorang tidak pernah akan mengalami kematian. Kematian sejatinya malah menyakitkan, menyedihkan, menggundahkan bagi mereka yang hidup, bukan yang mati. “I am actually dead only for others. […] Death is always described from the perspective of the living,” kata filsuf Jeff Mason enam bulan sebelum didiagnosis kanker paru-paru yang mengantarkannya pada kematian setahun kemudian (Mason 2015b). 

Argumen terkenal lainnya berasal dari Michel de Montaigne dalam esai termasyhurnya, “To Philosophize is to Learn How to Die”. Di dalamnya ia berkata: “Death is one of the attributes you were created with; death is a part of you; you are running away from yourself; this being which you enjoy is equally divided between death and life. From the day you were born, your path leads to death as well as life. After life you are dead, but during life you are dying.” (Montaigne 2004: 31) Hidup pada dasarnya tak terpisahkan dari kematian. Seperti koin yang terdiri dari dua sisi, hidup juga merupakan kesatuan antara hidup dan mati. Semua makhluk hidup diciptakan atau ada untuk pada akhirnya mati. Sehingga, mati juga merupakan bagian dari hidup kita sebagai bagian masa depan mutlak yang laten. Laten, sebab kita bisa mati kapan pun. Banyak kisah orang meninggal karena hal-hal kecil, seperti terselak, kerokan, terpeleset, melamun, dst. Montaigne juga membawa contoh-contoh itu dalam esainya (Ibid.: 24). 

Bagi Heidegger, kematian ialah bukti tragisnya subjek. Mengapa tragis? Sebab baginya, tiap-tiap kita pada dasarnya juga sudah “mati” (ex-ist), sebab kita hanyalah Dasein. Kalau mau diterjemahkan: ada-di sana. Toh dunia sudah ada sebelum kita lahir, dan kita tidak pernah dapat sepenuhnya mendefinisikan diri kita sendiri, sebab pada dasarnya pribadi kita merupakan bagian dari konstelasi dunia (lihat istilah: Gestell). Anggapan kartesian bahwa kita adalah subjek (res cogitans, Stand) yang menghadap dan menentukan objek (res extensa, Gegenstand) keliru, sebab keduanya tak terpisahkan; konsep relasionalitas subjek-objek menyebabkan subjek dalam artian kartesian tersebut sudah “mati”. Sebab itu, kematian haruslah direspons dengan kesunyian, dengan kata lain: tanpa sedu sedan dan kesedihan (Das 2018: 37). Menghadapi mortalitas dengan bersedih justru tidak autentik, sebab itulah yang normal terjadi pada tiap orang, karena toh tiap orang hanyalah bagian dari konstelasi dunia yang sama dan sama-sama hidup dalam keterbatasan waktu. Maka, ketika kita bisa menghadapi keterbatasan hidup kita dengan sunyi—yang bisa kita interpretasi sebagai modal untuk aksi-aksi lain seperti merenung dan memaknai kematian—kita menghadapinya dengan autentik (Ibid.: 35).

Hal itu mengingatkan kita pada kisah Plato yang menceritakan kematian gurunya, Sokrates. Pada eksekusi mati terbukanya, saat ia harus menegak racun hemlock, para pengikut dan muridnya bersedih dan menangis. Ia berkata, “What are you all doing? I am so surprised at you. I had sent away the women mainly because I did not want them to lose control in this way. You see, I have heard that a man should come to his end [teleutân] in a way that calls for measured speaking [euphēmeîn]. So, you must have composure [hēsukhiā], and you must endure.” (Plato, terjemahan Nagy 2015). Wanita pada saat itu dianggap lemah; sedu sedan dan keterbawaan oleh emosi merupakan stereotip yang disematkan pada wanita. Sementara murid-murid Sokrates sendiri yang merupakan laki-laki dan seharusnya kuat serta tak mudah terbawa emosi, malah menangis pada momen eksekusi gurunya. Maka dari itu Sokrates kaget dan menyarankan mereka untuk tetap teguh dan murid-muridnya pun akhirnya berhenti menangis. 

Yang lebih mengagetkan ialah skenario terakhir tentang Sokrates sebelum ia mati: “Then he [Socrates] took hold of his own feet and legs, saying that when the poison reaches his heart, then he will be gone. He was beginning to get cold around the abdomen. Then he uncovered his face, for he had covered himself up, and said—this was the last thing he uttered—’Crito, I owe the sacrifice of a rooster to Asklepios; will you pay that debt and not neglect to do so?’ ‘I will make it so,’ said Crito, ‘and, tell me, is there anything else?’ When Crito asked this question, no answer came back anymore from Socrates.” (Ibid.). Saking tidak pentingnya mati, kalimat terakhir yang diucapkan oleh filsuf terbesar sepanjang masa itu berkaitan dengan kurban ayam jantan dan permintaan kepada muridnya supaya membayar untuknya ayam jantannya, tanpa menghitungnya sebagai utang, sebab ia tak dapat membayarnya kembali—yang menurut Nagy memiliki makna hakiki dan akan dijelaskan di bagian berikut. Skenario itu barangkali menginspirasi Montaigne yang pada kalimat terakhir esainya menulis: “Blessed the death which leaves no time for preparing such gatherings of mourners.” (Montaigne 2004: 36). Atau dengan kata lain, “Terberkatilah kematian yang tiada menyisakan waktu untuk mempersiapkan kumpulan yang bersedu sedan macam itu”.

Mari kita simpulkan dan tutup bagian ini. Montaigne menyarankan kita untuk selalu mengingat bahwa hidup dan mati tidak berbeda (indifferent), keduanya merupakan dua sisi sebuah koin. Rasa takut juga tidak diperlukan, sebab saat mati, kata Wittgenstein, kita tak merasakan apapun. Oleh karena itu, lebih baik kita menghadapi kematian diri sendiri dengan autentik, saran Heidegger, dengan menjadikan kenyataan itu sebagai modal untuk berbuat sesuatu. Sokrates? Ia memberikan referensi mengenai bagaimana menghadapi kematian. 

IV.

Tentu masih banyak pemikiran tentang kematian yang lain (filsuf Stoa, eksistensialis, dst). Namun, kita dapat cukupkan bahasan mengenai mengapa kematian tak perlu ditanggapi secara negatif, dan mari beranjak ke pemikiran dan praktik melatih diri untuk mati, atau menanggapinya secara positif, seperti yang sudah dimulai oleh Sokrates pada bagian sebelumnya.

Montaigne, menindaklanjuti interpretasinya akan kematian, menyarankan demikian: “We do not know where death awaits us: so let us wait for it everywhere. To practise death is to practise freedom.” (Ibid.:24). Tahu bahwa kematian bisa menyergap kita kapanpun, bahkan akibat alasan-alasan yang dianggap konyol, maka seseorang sebaiknya bersiap untuk kematian kapanpun. Anggapan kontingensi hidup tetaplah berlaku. Seperti seseorang yang beragama Islam pernah menjelaskan kepadaku, bahwa aturan untuk selalu berzikir (menyebut nama Allah) setiap saat, juga diperintahkan untuk membuat seluruh umat selalu ingat bahwa kita dapat kapan saja dipanggil ke hadirat Allah. Kita dapat mengatakan, bahwa menunggu kematian merupakan cara pragmatis dalam mengolah kenyataan, bahwa kita akan mati. Dengan menunggu kematian, kita “mempraktikkan kebebasan” (Montaigne) sebab kita pertama-tama bebas dari perasaan atau emosi negatif dalam menghadapi fakta kematian, dan dengan itu mendapatkan kebebasan untuk hal positif lain, yakni menghidupi hidup lebih lagi.

Cornel West, saat ditanya dalam sebuah wawancara bersama Al-Jazeera (2015), mengapa dalam setiap perhelatan ia selalu mengenakan baju hitam seperti pendeta yang berkhotbah pada acara pemakaman, ia menjawab bahwa ia selalu “coffin-ready“: siap untuk dimasukkan ke dalam peti mati kapanpun. “Death in life makes us even more engaged with life in the short time that we are alive,” katanya. Mengetahui bahwa hidup merupakan “komoditas terbatas” yang pasti akan diakhiri oleh kematian membuat kita selalu berpikir bahwa waktu kita dalam hidup terbatas, dan dalam keterbatasan itu kita haruslah berani melakukan hal-hal positif yang akan kita tinggalkan sebagai warisan, atau dalam bahasa West: “witness” atau kesaksian tentang kita, dan orang-orang akan melanjutkan apa yang kita sudah kerjakan. Dalam kasus West, tentu ia ingin perjuangannya untuk orang-orang yang termarginalisasi dapat berlanjut—filosofi buatnya bertujuan “to make the suffering speak“, untuk membuat yang menderita terdengar.

Hal tersebut dapat kita lengkapi dengan kisah Sokrates, yang sebelum mati meminta Crito mengurbankan ayam jantan untuk Asklepios. Ritual kurban yang dipersembahkan untuk Dewa Asklepios dilaksanakan dengan harapan, bahwa dewa tersebut akan menyembuhkan yang sakit atau bahkan menghidupkan kembali yang sudah mati. Banyak yang berkata, bahwa Sokrates berkurban terhadap Asklepios oleh karena ia merasa bahwa “kematian merupakan obat (cure) untuk kehidupan.” (Nagy 2015). Namun, menurut Nagy, yang sejatinya ingin dikatakan Sokrates bukanlah hal tersebut. Nagy justru melihat hal yang lebih simbolis dalam pelaksanaan ritual tersebut: bahwa meskipun ayam jantan itu dikurbankan pada malam harinya, orang-orang akan mendengar lagi pada pagi harinya kokok ayam jantan yang lain. Sokrates ingin mengatakan, bahwa meskipun dirinya mati, logos (kebenaran yang mewujud dan beredar dalam kata) yang ia ajarkan dan coba munculkan harus dan akanlah tetap hidup dan diwariskan ke generasi selanjutnya (Ibid.). Kembali ke Cornel West, ia jelas terinspirasi dari kisah Sokrates tersebut pada poin mengenai pewarisan tekad.

Lain lagi dengan Allain de Botton yang menyarankan untuk mengatur prioritas dalam hidup dan untuk kembali melontarkan pertanyaan kepada diri kita sendiri: apa yang sebenarnya paling bermakna untuk kita? Ketika kita disodorkan kenyataan, misalnya dari statistik, bahwa hidup hanya terdiri 500.000 jam, maka tak sedikit akan tergerak untuk menyadari keterbatasan waktu dalam hidup dan mulai untuk memprioritaskan hal-hal yang penting secara pribadi. Hal tersebut dapat kita hubungkan dengan fakta bahwa yang terpenting ialah hubungan sosial dengan orang-orang yang kita cintai, seperti yang Robert Waldinger (2016) paparkan pada TED Talk populernya atau yang Harald Welzer selalu jadikan patokan paradigmatis untuk teori transformasi kemasyarakatannya. Bahwa manusia yang usianya terpanjang dan hidup bahagia adalah mereka yang memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan teman-temannya. Itu saja kuncinya, bukan harta, pangkat, jabatan, seks, maupun keindahan duniawi.

Jangan sampai kita keburu mati dan menyesal karena belum cukup melakukan sesuatu yang berharga, atau masih memiliki “hutang” yang belum kita lunasi dalam hidup. “As far as we possibly can, we must always have our boots on, ready to go; above all we should take care to have no outstanding business with anyone else,” demikian kata Montaigne (2004: 26). Berikut ini ialah beberapa filsuf yang merasa bahwa hidupnya akan lebih hidup bila hal-hal tertentu mereka lakukan lebih sering atau sama sekali sebelumnya.

Filsuf Fingarette, menjelang kematiannya di umur 97, mengutarakan penyesalannya karena tidak mengapresiasi dunia di sekelilingnya lebih dalam sejak dulu (Hasse 2020). Ia lebih banyak mendapat pengalaman yang dipopulerkan Kant sebagai Erhabenheit, sejenis meditasi yang membuat kita melihat hal-hal yang berada di depan mata kita secara transenden. Hartmut Rosa mencoba menjelaskan hal tersebut dengan istilah resonansi, bahwa diri kita beresonansi dengan alam (atau hal di luar diri kita). Dan Fingarette menyesalinya, bahwa ia tidak cukup mengapresiasi dunia dengan cara seperti ini selama hidupnya. 

Richard Rorty, pada tahun terakhir hidupnya, berkata, “However that may be, I now wish that I had spent somewhat more of my life with verse. […] It is because I would have lived more fully if I had been able to rattle off more old chestnuts [artinya: perihal yang kerap dibahas sampai tidak menarik lagi, dalam konteks ini mungkin puisi-puisi klasik] — just as I would have if I had made more close friends. Cultures with richer vocabularies are more fully human — farther removed from the beasts — than those with poorer ones; individual men and women are more fully human when their memories are amply stocked with verses.” (Rorty [2007]). Filsuf pragmatis itu, selepas didiagnosis kanker pankreas, mengatakan, pertama-tama, bahwa hanya larik-larik puisilah yang membantunya menghadapi kematiannya, bukan konsep-konsep filosofis (Ibid.). Keindahan akibat kekayaan kata sebuah puisi membuat manusia lebih manusiawi, karena itu sebaiknya setiap orang memenuhi otaknya dengan keindahan larik-larik puisi. Kedua, ia juga berharap bahwa ia memiliki lebih banyak teman dekat—Rorty memang menyebut dirinya sendiri anti-social di beberapa wawancara biografisnya—sesuatu yang telah dibuktikan oleh Waldinger di atas.

Terakhir, ada baiknya kita melengkapi tulisan ini dengan kutipan dari Jeff Mason (2015b): “For a long time, I have been puzzled by two famous philosophical ideas about death, one from Plato and one from Spinoza. The first is that a philosopher has a vital concern with death and constantly meditates upon it. The second is that the wise person thinks of nothing so little as death. Perhaps the truth is somewhere in the middle. Ignoring death leaves us with a false sense of life’s permanence and perhaps encourages us to lose ourselves in the minutiae of daily of life. Obsessive rumination on death, on the other hand, can lead us away from life. Honestly coming to terms with one’s death involves reflection on its significance in one’s life, and thinking about the larger values that give life its meaning. In the end, it is useful to think about death only to the point that it frees us to live fully immersed in the life we have yet to live.” Mereka yang terlalu obsesif memikirkan kematian akan berada dalam sebuah bahaya, karena ia dapat tertarik terlalu jauh dari kehidupan nyata. Mereka yang melupakan dan tak memaknai kematian terjebak dalam detail-detail dan tetek bengek parsial masa kini. Yang harus kita lakukan barangkali berada di tengah-tengahnya: semudah untuk mengambil manfaat dari fakta bahwa kita akan mati. 

Death destroys a man, but the idea of death saves him,” kata E.M. Forster (dalam Beck 2015). Kematian menghancurkan seseorang, namun gagasan tentang kematian (dapat) menyelamatkannya.

Daftar Pustaka

Beck, Julie (2015). “What Good is Thinking About Death.” The Atlantic, 28 Mei 2015. https://www.theatlantic.com/health/archive/2015/05/what-good-is-thinking-about-death/394151/

Das, Saitya Brata (2008). “To Philosophize is to Learn How to Die?” Kritike, Vol. 2, Nr. 1: hal. 31-49. 

Farnam Street. “Marcel Proust: Imminent Death Reminds Us that Life is Beautiful.” https://fs.blog/2014/09/marcel-proust-newpaper/

Foucault, Michel [1967] (2020). “Different Spaces”, dalam Aesthetics, Method, and Epistimology. Essential Works of Foucault 1954-1984: Volume Two, diedit oleh James Faubion,hal. 175-186. London: Penguin Modern Classics.

Foucault, Michel [1975-76] (2020). “Society Must Be Defended. Lecture at the Collège de France, 1975-1976”. London: Penguin Modern Classics.

Harari, Yuval Noah (2017). “Homo Deus: A Brief History of Tomorrow.” London: Vintage.

Hasse, Andrew (2020). “A 97-Year-Old Philosopher Ponders Life and Death: ‘What Is the Point?’.” The Atlantic, 14 Januari 2020. https://www.theatlantic.com/video/index/604840/being-97/

Mason, Jeff (2015a). “Close Encounter of the Cancer Kids”. The Philosopher’s Magazin, 1 Januari 2015. https://www.philosophersmag.com/opinion/18-close-encounters-of-the-cancer-kind

Mason, Jeff. “Death and Its Concept.” The Philosopher’s Magazin, 15 Januari 2015.https://www.philosophersmag.com/opinion/17-death-and-its-concept

Montaigne, Michel [1987] (2004). “To philosophize is to learn how to die”, dalam The Essays: A Selection, diedit oleh M. A. Screech, hal. 17-36. London: Penguin Classics.

Nagy, Gregory (2015). “The Last Words of Socrates at the Place Where He Died.” https://classical-inquiries.chs.harvard.edu/the-last-words-of-socrates-at-the-place-where-he-died/

Rorty, Richard (2007). “The Fire of Life.”Poetry Magazine, 18 November 2007. https://www.poetryfoundation.org/poetrymagazine/articles/68949/the-fire-of-life

West, Cornel (2015) diwawancara oleh Al Jazeera America. https://www.youtube.com/watch?v=9MjdZCyshrQ&t=6s

Wittgenstein, Ludwig [1922] (2020). “Tractatus Logico-Philosophicus. Logisch-philosophische Abhandlung.” Side-by-Side-by-Side Edition. https://people.umass.edu/klement/tlp/tlp.pdf

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *