Paradoks Identitas Kapal Theseus: Mendalami Makna Identitas

0
Share

Dalam dunia yang semakin kompleks dari waktu ke waktu, tentu sulit untuk meraih suatu pegangan untuk memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Ketika kita sedang berusaha memahami suatu fenomena yang sedang terjadi, fenomena baru muncul, lalu ketika kita berusaha memahami fenomena baru ini, fenomena yang baru lagi muncul. Begitu seterusnya sampai kita akhirnya tidak memahami satupun fenomena yang sedang terjadi. 

Di sisi lain, dalam proses memahami fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar kita, terjadi pula pergolakan internal dalam proses kita memahami fenomena eksternal yang sedang terjadi. Dengan kata lain, tidak hanya dunia yang mengalami perubahan, tetapi kita juga terpengaruh. Kita bereaksi dengan perubahan yang ada di lingkungan kita.

Ketika kita memprioritaskan untuk memahami perubahan sistem ketimbang memahami apa yang terjadi secara internal, situasi akan menjadi semakin rumit karena kita tidak tahu apa yang kita mau. Kita kewalahan dengan segala perubahan yang terjadi pada sistem dan berakhir dengan kehilangan makna dari diri kita sendiri. Hal ini disebut sebagai krisis identitas, kondisi di mana seseorang tidak “mengenal” dirinya sendiri.

Maka dari itu, sesungguhnya penting untuk sebelum berinteraksi lebih lanjut dengan sistem yang membentuk kita, kita kembali mengenali diri kita sendiri, memulai dari dalam, mengenal perubahan yang terjadi secara internal. 

Sebelum melangkah lebih jauh memahami diskusi tentang identitas dalam ranah pascamodern (Krisis identitas, Ancaman Identitas, Patchwork Identity, Pencarian Identitas, dsb), alangkah baiknya apabila kita terlebih dahulu melihat kembali arti identitas dalam eksperimen pikiran dalam legenda Yunani Kuno berikut:

Theseus memiliki sebuah kapal yang digunakan untuk mengarungi lautan untuk menjalankan berbagai misi. Dalam setiap misi, kapal tersebut mengalami kecacatan dan harus diganti menggunakan komponen yang baru. Perlahan-lahan kapal tersebut tidak lagi terdiri oleh komponen, komponen lamanya. Apakah kapal tersebut masih kapal yang sama?

  1. Melihat Paradoks Identitas dari Sudut Pandang Atomisme

Heraklitus, seorang filsuf sebelum masa Plutarkhos pernah mengatakan, “No man ever steps in the same river twice, for it’s not the same river and he’s not the same man.

Pernyataan ini dikeluarkan mengingat perubahan yang selalu terjadi terutama pada level atom, entah perubahan posisi atom, sel, kepribadian manusia, posisi atom air yang ada pada sungai, atau apapun. Yang jelas, selalu terjadi perubahan terutama pada level atom. 

Apabila kita melihat kasus paradoks identitas ini menggunakan kacamata atomisme, berarti Kapal Theseus yang pertama dapat kita sebut sebagai K0 (Kapal 0), mendefinisikan kapal pertama sebagai kapal yang masih memiliki identitas yang belum diberi perlakuan apapun. 

Setiap bagian kapal yang rusak dan diganti dengan bagian yang baru, angka bertambah 1. Katakanlah layarnya rusak dan perlu dipasang layar baru, kapal tersebut menjadi K1, begitu seterusnya sampai perubahan ke-n. Sama halnya pada manusia, setiap ada perubahan posisi atom, perubahan sel, keputusan, pemikiran, sikap manusia. Kesimpulannya, detik di mana ada perubahan pada suatu objek, di situlah ia kehilangan sebagian dari identitasnya. 

Namun, bila dipertimbangkan lebih lanjut, detail-detail sederhana yang diubah perlahan-lahan tidak membuat orang-orang tidak bisa mengidentifikasi objek tersebut. Lalu apakah benar setiap ada perubahan, objek yang mengalami perubahan merupakan objek yang berbeda?

Dengan adanya kasus ini tentu kita perlu memiliki pandangan baru terhadap paradoks identitas ini. Dalam artikel ini, teori yang akan digunakan untuk memberikan perspektif baru tersebut adalah teori esensialisme.

  1. Melihat Paradoks Identitas dari Sudut Pandang Esensialisme

Apabila dipikirkan lagi, manusia tidak hanya mengidentifikasi suatu objek hanya dari bagian-bagian atau komponen-komponen kecilnya, melainkan juga secara holistik. Menurut Aristoteles, fokus dari teori esensialisme terletak pada “what it has been, what it is, and what it could be.” Dengan kata lain, identitas dalam konteks esensialisme terletak dalam dimensi kontinuum ruang dan waktu. 

Ada sebuah anekdot yang kurang lebih menjelaskan masalah  menjelaskan penjelasan Aristoteles tentang esensialisme lebih mendalam:

“Seorang pencuri sedang dalam masa persidangan, tindakan pencurian dilakukan beberapa bulan yang lalu. Karena sang pencuri melakukan pencurian beberapa bulan yang lalu, sang hakim berkata, ‘biarlah ia dilepaskan, dia bukan lagi orang yang sama.’”

Dalam kasus ini tentu orang tersebut masih, dan akan selamanya memiliki predikat “pernah mencuri”, suatu hal yang akan sampai kapanpun melekat pada orang tersebut dan dia tetap harus bertanggung jawab atas apa yang pernah ia lakukan. Esensi suatu objek tidak dapat ditentukan hanya dari satu atau dua aksi melainkan akar dari eksistensi dari objek tersebut. 

Namun, berbicara tentang esensi, apa sesungguhnya esensi manusia? 

  • Esensi Eksistensi Manusia

Berbicara tentang esensi eksistensi manusia tentu tidaklah mudah. Berbagai filsuf mulai dari Jean Paul Sartre, René Descartes, Heidegger, dan masih banyak lagi sudah pernah berusaha untuk menjelaskan tentang esensi dari eksistensi manusia, tetapi tentu saja jawaban-jawaban tersebut merupakan manifestasi dari kontemplasi dan riset yang para pemikir tersebut lakukan. Pernyataan-pernyataan tentang tema ini tentu tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang mutlak benar dan hanya bisa dianggap sebagai pemahaman-pemahaman yang bisa membantu manusia untuk memahami lebih dalam esensi dari eksistensinya. Namun, tulisan ini akan menggunakan eksistensialisme Sartre untuk mendefinisikan esensi dari eksistensi manusia.

Sartre berkata, “Apabila Tuhan tidak ada, setidaknya terlebih dulu harus ada subjek yang eksistensinya tak dapat didefinisikan oleh konsep apapun, yaitu manusia, atau menurut Heidegger, Dasein.” Dengan kata lain, manusia mendefinisikan dirinya sendiri setelah eksis di dunia. Entitas ini di awal kehadirannya merupakan sesuatu yang nihil. Ia sebagai subjek menentukan sendiri apa yang akan menjadi esensinya, bagaimana ia akan bisa diidentifikasi.

Menurut saya sendiri, akar dari manusia, hakikat dari manusia merupakan kebisaannya untuk “menjadi” atau “to be.” 

Salah satu aspek yang selalu diglorifikasi untuk menjadi pembeda manusia dengan makhluk lain adalah kehendak bebas dan kesadaran yang dimiliki manusia atas aksinya. Manusia mencari cara untuk menjadi pekerja, ilmuwan; menjadi pengamat, perawat; menjadi seorang ayah, seorang ibu; menjadi bahagia; menjadi. Ketika semua kebisaan itu reduksi dan diintegrasikan dengan keinginan untuk eksis, kita mendapatkan satu makna dari eksistensi manusia, yaitu “to be me”.

  1. Makna Identitas dari Perspektif Filosofi dan Sosiologi

Tentu dalam perjalanan hidup manusia, “kemenjadian” tidak hanya terjadi sekali saja, melainkan merupakan suatu hal yang selalu terjadi. Kemenjadian ini terbentuk dari interaksi antara manusia dengan sistem, sehingga, seperti yang sudah dijelaskan di pendahuluan, terjadi perubahan yang abadi pada manusia, setiap perubahan yang terjadi ini tentu saja tidak bisa dikatakan sebagai identitas manusia, melainkan dapat dikatakan sebagai wujud (hypostase).

Boleh saja kita mengatakan bahwa “wujud”–atau dalam konteks ini tentu saja karakteristik dan segala hal yang berkaitan dengan individu tersebut–manusia berubah setiap detiknya. Namun, wujud yang terdiri dari W1, W2, W3, dan seterusnya itu tentu tidak bisa digunakan sebagai pegangan untuk mengidentifikasi seseorang. 

Ketika kemarin kita adalah W2, dan hari ini kita sudah berubah menjad W4 karena ada perubahan-perubahan yang terjadi pada diri kita seperti sikap, atau pilihan hidup, masihkah kita, “kita”? Tentu saja kita masih kita karena kita terbentuk dari proses pembentukan kita yang berada di masa sekarang. Apa yang membentuk identitas kita adalah kumpulan kemenjadian dan proses kemenjadian tersebut sampai di titik di mana kita merenggang nyawa kita, kemenjadian yang paling terakhir yang akan kita alami sebagai subjek yang memiliki kesadaran akan kesadarannya, menjadi tak bernyawa.

Identitas merupakan konstruksi mental yang mendeskripsikan suatu subjek lewat kumpulan dari apa yang membuat suatu subjek, subjek itu. Dengan kata lain, identitas adalah kumpulan kemenjadian yang mendefinisikan “aku” dalam konteks pribadi Anda masing-masing.

Referensi:

Müller, Bernadette. 2009. Soziologische Analysen zur gesellschaftlichen Konstitution der Individualität. Graz (DE): Karl-Franzens-Universität Graz

Reckwitz, Andreas. 2001. 

Lindemann, Bernd. 2015. Das Schiff des Theseus. Saarland (DE): Universität des Saarlandes 

Bross, Benjamin. (2020). Theseus’ Paradox: History, Authenticity, and Identity. 

Ramsey, Grant. (2013). Human Nature in a Post-Essentialist World. Philosophy of Science. 80. 983-993. 10.1086/673902. 

Lampersberger, Florian. (2015). Das Thema Sinn im Grenzbereich von Philosophie, Theologie und Psychologie. 10.13140/RG.2.1.3345.9283. 

Newman, George & Knobe, Joshua. (2019). The essence of essentialism. Mind & Language. 10.1111/mila.12226. 

https://www.ancient.eu/Theseus/

Ventegodt, Soren & Andersen, Niels & Merrick, Joav. (2004). Five Theories of the Human Existence. TheScientificWorldJournal. 3. 1272-6. 10.1100/tsw.2003.113. 

Sartre, Jean-Paul: Ist der Existentialismus ein Humanismus? Ullstein, Frankfurt 1989 – ISBN 3-548-34500-X

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *