Periodisasi dan Genealogi Puisi Indonesia

0
Share

Dalam khazanah Sejarah Sastra Indonesia, perkembangan karya sastra selalu identik dengan proses kreativitas yang mengikutinya. Sejak pertama kali Sastra Indonesia Modern diperkenalkan dalam panggung publik Indonesia, maka sejarah kemudian mencatat beberapa bagian penting yang harus dipahami masyarakat, yakni tokoh, waktu, dan peristiwa sastra. Dengan demikian, ruang lingkup pembicaraan sastra tidak melebar terlalu jauh dan bias dimaknai sebagai lahirnya tanda-tanda dari proses kreatif tersebut. Selain itu, karya-karya sastra tidak akan terlepas dari sebuah masalah yang ada di dalam masyarakat, bahkan dengan adanya karya seseorang dapat memengaruhi pola berpikir masyarakat hal tersebut bersifat nyata dan ada.

Sastra menunjukkan bayangan kehidupan, dan kehidupan merupakan keadaan sosial yang konkret.

Puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang  imajinasi panca indra dalam susunan yang berirama.  Dengan  demikian,  dapat  dinyatakan  bahwa  puisi  banyak  bersumber dari perasaan dan makna yang diungkapkan dengan bahasa yang berirama. Di balik kesulitannya, sebenarnya puisi mengandung nilai-nilai  kehidupan.  Oleh karena itu, memahami puisi sama dengan membaca kehidupan yang terjadi di masyarakat. Berdasarkan isinya tersebut, puisi memiliki manfaat yang  besar bagi pembaca, di antaranya  adalah: memberikan hiburan kepada pembaca, mengandung  ajaran  moral, dan dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengkritik keadaan sosial masyarakat,  serta  dapat  menyadarkan  pembaca.

Karya sastra berupa puisi juga memiliki nilai-nilai dan pesan moral yang menjelaskan  persoalan sosial. Melalui karya sastra seperti puisi pula rakyat dapat memahami dan memperhatikan kondisi sosial-politik di sekitarnya. Melalui puisi, rakyat dapat memperoleh nilai-nilai dan pesan-pesan moral yang disampaikan oleh sastrawan. Maka dari itu, terkadang penulisan puisi menggunakan kalimat-kalimat yang mudah untuk dipahami oleh pembaca, meski di sisi lain pun ada yang menulisnya dengan perumpamaan bahasa. Tetapi, nilai serta pesannya tidak luntur dan seimbang; yaitu menyentuh dan dapat dimengerti oleh khalayak umum.

Sejarah puisi tidak terlepas dari pembabakan waktu atau periodisasi untuk menunjukkan perkembangan sastra dari periode ke periode. Periode adalah bagian waktu yang dikuasai oleh norma-norma dan konvensi-konvensi sastra yang munculnya, meluasnya, keberbagaiannya, integrasinya, serta lenyapnya dapat dirunut.

Perkembangan tersebut  dapat  dilihat  dari  bentuk,  tema,  dan  isinya,  kemudian  teknik  penciptaan  dan penyajiannya.  Tema-tema  yang  muncul  di setiap  periode  hampir  selalu  mengalami perbedaan. Berdasarkan   perubahan tersebut, maka  dalam  memahami  puisi perlu memperhatikan faktor genetik puisi. Genetik atau genealogi puisi itu meliputi periodisasi puisi, penyair dan kenyataan sosial yang melatarbelakangi kehidupannya, serta proses penulisan dan bentuk puisi.

Pada umumnya, sampai sekarang, tahun 1920 dianggap sebagai tahun lahirnya kesusastraan Indonesia modern; tahun terbitnya ditulisnya yaitu tahun 1921, roman Azab dan Sengsara oleh Merari Siregar. Akan tetapi, pada tahun 1920, sajak Indonesia modern pertama kali ditulis oleh M. Yamin berjudul Tanah Air, terdapat pada Jong Sumatra No. 4, Tahun III, April 1920. Sebuah karya sastra yang merupakan respons terhadap karya sastra sebelumnya, baik berupa tanggapan atau penyambutan yang bersifat penerusan konvensi maupun penyimpangan konvensi yang telah ada.

Saat itu, seorang penyair menulis puisi berdasarkan konvensi-konvensi puisi sebelumnya, sekaligus juga sering menyimpangi konvensi yang telah ada ataupun norma puisi sebelumnya. Hal ini mengingat bahwa karya sastra (puisi) itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. Demikian juga, karya sastra itu merupakan tegangan antara konvensi dan inovasi. Sesungguhnya, lahirnya kesusastraan Indonesia modern itu merupakan respons dari ciri puisi lama. Dengan demikian, lahirlah ciri-ciri baru yang lain dari ciri puisi lama; baik dari segi aturan, ekspresi perasaan, norma-norma puisi, maupun kondisi sosial.

Pembabakan waktu Puisi Indonesia Modern dapat disusun sebagai berikut:

  1. Periode Pra-Pujangga Baru dan Pujangga Baru (1920 – 1942)
  2. Periode Angkatan 45 (1942 – 1955)
  3. Periode 50 – 60-an (1955 – 1970-an)
  4. Periode 70 – 80-an (1970 – 1990)

I. Periode Pujangga Baru

Pada periode ini, perbedaan antara periode Pra-Pujangga dan Pujangga Baru memang hanya sedikit. Periode 1933-1940 merupakan periode integrasi kedua periodenya dan berkembangnya (keberbagaiannya) puisi Pujangga Baru dengan terbitnya majalah Pujangga Baru pada bulan Juli 1933. Puisi-puisi  pada  waktu  itu  masih  terpengaruh  oleh  puisi  lama, seperti  pantun  dan syair. Pada angkatan ini, dipelopori oleh M. Yamin, Rustam Efendi, dan Sanusi Pane. Karya  sastra,  termasuk puisi,  yang  muncul  pada  waktu  itu  penuh dengan syarat-syarat dan ditulis dengan maksud-maksud tertentu, sehingga   akhirnya bermuara bagi kepentingan politik jajahan. Artinya,  karya  sastra  yang diciptakan   pada waktu itu memiliki banyak syarat yang harus diikuti karena aturan pemerintah Belanda  terhadap media karya sastra. Namun, walaupun dengan keterbatasan tersebut, para  penyair Indonesia tetap berkarya.  Aturan  pemerintah  Belanda  tidak  melunturkan semangat para pengarang sastra untuk berkarya.

Pujangga Baru mengikuti aliran romantik Gerakan 80 Belanda. Aliran romantik itu berpengaruh dalam struktur dan ragam sajak-sajaknya, juga pemilahan objek, masalah, serta muatan perasaan dalam gaya pengucapan perasaan, pelukis alam yang indah. Tema-tema  tentang  pelukisan  alam  dan  ungkapan  kekaguman  terhadap Tuhan banyak mewarnai puisinya. Gayanya juga polos, tidak mempergunakan kiasan yang bermakna ganda. Kata-katanya pun serebral, hubungan kalimat-kalimatnya jelas, nasionalismenya tinggi dan ide keagamaan juga menonjol.

M. Yamin adalah salah satu penyair yang terkenal saat itu. Judul-judul  puisinya  menunjukkan  bahwa  M. Yamin adalah seorang nasionalis yang memiliki rasa cinta terhadap tanah air. Perkataan tanah  air  pada  awalnya  adalah  Sumatra,  tetapi  akhirnya  menjadi  Indonesia. Secara  geneologi, dalam puisi M. Yamin, terdapat pengaruh  atau  latar terhadap bentuk sastra lisan sebelumnya. Sedikit banyak, M. Yamin mengacu pada puisi  lisan  mantra atau juga puisi-puisinya memang  menunjukkan  semangat kebangsaan yang tinggi. Hal tersebut tidak terlepas akibat pengaruh dari pekerjaan dan status sosialnya. Kenyataannya, puisi-puisinya banyak mengacu pada puisi  lama dan masih menyesuaikan dengan aturan pemerintah Belanda. Keterikatan tersebut akhirnya membuat para penyair Indonesia terbatas dalam berkreasi. Meskipun dengan kondisi yang terbatas, M. Yamin terbukti tetap menghasilkan karya yang menunjukkan kecintaan dan kekagumannya terhadap tanah air.

Pengarang berikutnya adalah Sanusi Pane. Dalam puisi-puisinya, banyak  menggunakan   kata-kata “alam”. Tema puisinya  juga  mengungkapkan  masalah serta rasa  kekagumannya  terhadap  alam  dan cinta tanah  air. Kumpulan puisi Sanusi  Pane di antaranya  berjudul Pancaran  Cinta (1926)  dan Puspa Mega (1927). Karya-karya   Sanusi   Pane   bernapaskan   agama   Hindu. Seperti  dalam  puisi Wijaya  Kusuma. Dalam puisi  tersebut, Wisnu  digambarkan  sebagai  Krisna.  Diksi yang  dipakai  kebanyakan menggunakan kiasan,   terutama di bagian yang berkaitan dengan alam. Pemujaan  terhadap  alam  dan  pencariannya tentang rahasia Tuhan sering dimunculkan dalam puisinya. Mayoritas puisi  karya Sanusi Pane bersifat impresionistis, seperti dalam  puisi Candi Mendut, Teratai dan  Sjiwa Nataraja.

II. Periode Angkatan 45 (1942 – 1955)

Puisi pada periode ini lebih beraliran realisme yang mengutamakan penggambaran kehidupan. Di dalamnya, tergambar kehidupan sehari-hari yang dapat dialami secara nyata. Di samping itu, dalam gaya pengucapannya, Angkatan 45 mengikuti aliran ekspresionisme. Oleh sebab itu, semua ini berpengaruh dalam gaya ekspresi dan pemilihan masalahnya. Sajak-sajak angkatan 45 juga disebut sebagai sajak bebas, yaitu tidak terikat pada jumlah baris, persajakan, dan periodisitas. Dan juga, tidak mempergunakan diksi kata-kata indah dan tidak mengutamakan gaya curahan perasaan. Gayanya lebih bersifat kepada pernyataan pikiran serta menggunakan  diksi  yang  mengungkapkan  keyakinan bukti  yang  mendalam  dan  intensitas  arti,  dengan  menggunakan  bahasa  sehari-hari. Pun, banyak menggunakan penggunaan metafora  dan  simbolik.  Gaya pernyataan pikiran berkembang,  banyak  menggunakan  gaya  bahasa  ironi  dan  sinisme. Dengan  struktur  tematis  mengekspresikan  eksistensi  diri  penyair.

Berdasarkan ciri-cirinya tersebut, dapat disimpulkan bahwa puisi-puisi Indonesia pada  angkatan 45 ini  dibentuk  karena  kondisi  sosial  masyarakat  Indonesia yang  sudah  ingin merdeka.  Adapun  tokoh  atau  pelopor  pembaru  puisi,  yaitu  Chairil  Anwar.  Chairil terkenal  sebagai  pembaru  puisi karena karya-karyanya  berbeda  dengan  angkatan sebelumnya. Puisinya  berbicara tentang semangat perjuangan atau pemberontakan, pendekatan diri kepada Tuhan, serta kegagalan cinta. Ungkapan batinnya juga disampaikan secara lengkap. Hal  itulah yang  menjadi  ciri  khas  puisi  angkatan  45  atau  angkatan  Chairil  Anwar.  Judul  puisinya  di antara  lain; Kerikil  Tajam, Yang Terempas dan  yang Putus, Deru Campur  Debu, dan Tiga  Menguak  Takdir.  Penyair-penyair  yang dapat  mewakili gambaran  puisi  angkatan  45,  yaitu;  Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Asrul Sani, Harijadi S, dan Hartowardojo. Secara umum, sajak-sajak Chairil mencerminkan    masalah-masalah yang terjadi di sekitar kehidupannya yang  dikemas   sedemikian   rupa.   Sebelumnya  masalah-masalah tersebut juga dialami oleh manusia pada umumnya.

Malam Lebaran

Bulan di Atas Kuburan

SItor situmorang

Puisi-puisi  karya dari Sitor Situmorang di atas merupakan puisi yang  cukup  terkenal akan sifat kontroversialnya. Kata  “malam lebaran” sendiri  mengandung  pengertian  secara  harfiah.  Kata  “malam  lebaran”  tidak  mungkin  ada bulan  bersinar.  Malam  lebaran memiliki suasana yang gelap  karena  masih tanggal  muda 1 Syawal.   Tanggal   muda  di   bulan   Jawa   belum   ada   bulan   bersinar. Hal tersebut melambangkan  adanya  kesunyiaan yang menakutkan.  Pada waktu  malam hari, di kuburan, orang yang mati tengah berada dalam kesendiria dan kesunyiannya. Menurut Sitor, ia ingin menyatakan  bahwa manusia keterasingan atau keterpencilan, ciri-ciri aliran  filsafat. Berdasarkan uraian  di atas, dapat diketahui bahwa latar belakang sosial, pendidikan, dan  ekonomi, banyak memengaruhi isi dan ide tentang karya puisi.          

II. Periode 50 – 60-an (1955 – 1970-an)

Sebelumnya, puisi angkatan 45 pada umumnya mencari bahan-bahan di sekitar masalah perang. Karena di situlah masalah kemanusiaan menjadi menonjol, dalam arti, orang ingin  merdeka, terbebas dari penjajahan dan kekejaman perang yang membuat penderitaan manusia. Sesudahnya, saat periode ini, selesai perang kemerdekaan, situasi menjadi berubah. Orang-orang mulai memikirkan kemasyarakatan dan keberadaan kebudayaan bangsa sehingga para sastrawan sebagai anggota masyarakat dan bangsa pun tidak terlepas dari masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. Semua hal tersebut dituangkan ke dalam sajak-sajaknya.

Pada tahun  60-an,  puisi  Indonesia  sudah  berkembang  ke  ranah  politik.  Warna  politik dan sastra  terlihat  bersamaan  dengan  lahirnya LEKRA.  Karya  puisi  yang muncul  pada tahun  tersebut  ditentukan  oleh  aliran  politik  penyairnya. Para sastrawan terpecah meski tetap ada yang “merdeka”, tidak mengikatkan diri pada partai politik. PNI berlembaga kebudayaan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional), serta memiliki ide “kenasionalan”. PKI: LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat), dengan ide “Seni untuk Rakyat”; partai islam (NU) mempunya Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia), tentunya dengan dasar-dasar islam. Dengan demikian, corak kesusastraan pun menjadi bermacam-macam.

Para penyair LEKRA yang menonjol di antaranya adalah H. R. Bandaharo, Sobron Aidit, F.L Risakota, Agam Wispi, Klara Akustia (A. S. Dharta) dan S. Anantaguna. Para penyair yang bercorak keislaman pada puisinya di antaranya adalah Mohammad Saribi Afn., Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Mohammad Diponegoro, dan Djamil Suherman. Penyair yang menulis bercorak kekatolikan adalah W. S. Rendra. Sementara Suparwata Wiratmadha, M. Popppy Hutagalung, dan Darmanto Jt menulis dengan corak kekristenan. 

Pada periode ini, berkembang puisi epik yang terkenal dengan Balada. Nama balada pertama kali dipergunakan oleh W. S. Rendra. Meskipun begitu, pada periode sebelumnya sudah ada juga jenis balada walaupun belum populer dan tidak mempergunakan nama “balada”. W.S.  Rendra, yang terkenal  sebagai  penyair  dan  penulis  naskah  drama, memiliki banyak karya-karya yang berbentuk  Balada  dan  isinya  banyak  mengungkapkan  kritik  sosial  terhadap  peristiwa yang  terjadi  di masyarakat, baik  masyarakat  bawah maupun masyarakat  atas  (para penguasa). Beberapa karyanya di antara lain: Balada Orang-Orang Tercinta, Sajak-Sajak Sepatu Tua, Blues Untuk Bonie, Potret Pembangunan dalam Puisi. Sajak-sajak  Rendra  juga diterjemahkan  dalam   bahasa  Inggris.  Rendra  termasuk penyair  yang  cukup  produktif.  Ia  terkenal  sebagai penyair  dan  dramawan.  Rendra dilahirkan di Surakarta   pada   tanggal  7   November   1935.   Ia   mengambil jurusan Sastra Barat di Universitas Gadjah Mada.  Lalu, pada tahun  1964, ia berangkat ke Amerika untuk memperdalam studi di bidang drama.

Penyair  pada  dekade  ini  yang  tidak  kalah  produktifnya  dengan  Rendra  adalah Sapardi  Djoko  Damono.  Ia  terkenal  sebagai  penyair  dan  pengarang  terkenal  setelah Rendra.  Karya-karya Sapardi di antara lain: Dukamu Abadi (1964),  Mata  Pisau (1974),  Akuarium (1974), Perahu  Kertas (1984), dan Hujan Bulan Juni.  Beberapa kumpulan puisinya ada yang dijadikan musikalisasi puisi kemudian difilmkan. Sapardi dikenal sebagai  penyair produktif dalam  tiga  dekade  dan  sempat menulis  buku  Sosiologi  Sastra.  Puisi-puisi  Sapardi  bersifat  imajis, kadang bentuknya pendek-pendek  sehingga  terkesan  belum  selesai  atau  menggantung,  dianggap  pembaca sudah  memahami  puisi  tersebut.  Sebagian dari puisi Sapardi ada  yang  berlatarkan  cerita wayang sehingga pembaca dituntut untuk mengetahui cerita wayang yang dipakai menjadi latar puisi Sapardi. Salah satunya seperti  cerita  Sumantri dan  Sukasrono, diambil  dari  cerita Ramayana, Buku Arjuna  Wiwaha.  

Tahun 1960-an, terbit sajak-sajak perlawanan akibat demonstrasi kaum muda angkatan 66 yang menentang Orde Lama lantaran berdasar politik Nasakom. Sajak-sajak yang paling terkenal adalah karya Taufiq Ismail yang dikumpulkan dalam Tirani dan Benteng. Terdapat penyair yang nantinya berpengaruh pada tahun 1970 – 1990, seperti Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi Wm. Selain itu, pada tahun 1950 pun banyak sastrawan yang bergerak di kota besar selain Jakarta, baik kelompok maupun perorangan, baik dicetak maupun stensilan. Hal ini pun terus meningkat hingga tahun 1970.

IV. Periode 70 – 80-an (1970 – 1990)

Dalam periode ini, banyak karya baru yang lahir. Tetapi, dengan para penyair dahulu meski memang disamping itu terdapat penyair baru yang segar dan muda menamakan dirinya angkatan 70 atau 80. Periode ini dikenal dengan periode sastra, khususnya puisi. Penulis-penulis tua pun semakin aktif dan produktif, seperti, St. Takdir Alisjahban, Sitor Situmorang, Ajip Rosidi, Rendra, Goenawan Mohamad, Sapardi, dan Taufiq Ismail.

Dengan terbitnya sajak-sajak angkatan lama dan penyair baru yang memperkenalkan gaya baru mereka, maka lahirlah bermacam-macam ragam puisi dalam periode ini. Beberapa di antaranya seperti puisi Sutardji Calzoum Bachri yang  berjudul O,  Amuk, Kapak (1981); Abdul Hadi WM puisinya berjudul Meditasi, Tergantung Pada Kata, Potret  Pembangunan  dalam  Puisi;  M.H.  Ainun  Najib  dalam  puisinya  berjudul M. Frustasi, Linus Suryadi  A.G  dalam  puisinya berjudul, Perkutut Manggung, Rumah panggung, dan Kembang  Tanjung. Zawawi Imron  adalah  penyair  dari  Madura yang tergolong  sebagai penyair produktif dan telah menghasilkan banyak karya. Beberapa di antaranya, yaitu Bulan Tertusuk lalang, Nenek moyangku. Terdapat seorang penyair perempuan yang telah mulai menulis sejak awal tahun 1960-an, yaitu Isma Sawitri. Dapat dikatakan bahwa ia sangat produktif dan sajak-sajaknya pun menarik. Akan tetapi, karena ia belum membukukan sajak-sajaknya, kecuali dalam antologi puisi, ia pun kurang dikenal.

Dapat dikatakan bahwa banyak kumpulan puisi yang terbit dalam kurun waktu periode ini, baik itu terbitan tercetak maupun stensilan; baik diterbitkan oleh penerbit terkenal seperti, Balai Pustaka, Pustaka Jaya, Gunung Agung, Sinar Harapan, Nusa Indah, maupun penerbit-penerbit kurang dikenal, bahkan juga diterbitkan oleh penyairnya sendiri.

Penyair di dekade tersebut menghasilkan puisi-puisi yang majemuk. Tema-tema yang diambil tergantung pada kesenangan masing-masing penyair. Ada puisi yang sulit dipahami  karena  bentuknya yang  tidak  beraturan.  Puisi  Sutardji, misalnya, memiliki  konsep berpikir yang  berbeda  dengan  penyair  kebanyakan. Sutardji lebih mementingkan  makna, namun ia kurang memperhatikan  kata  secara  umum.  Puisi  pada  era  ini adalah hal  yang  terjadi  dalam  kehidupan manusia,  masalah-masalah  yang  universal  menjadi  acuan,  dalam  puisinya.  Masalah keagamaan,   kritik   sosial,   warna   lokal   daerah   menjadi   sorotan  ide mereka untuk mewujudkan cita-citanya. Pada dasarnya, banyak para penyair Indonesia yang memiliki talenta dan peka terhadap kondisi masyarakat di sekelilingnya.   Dalam berkarya, para penyair banyak terinspirasi  dari  hal-hal  yang  muncul  di  sekitarnya. Secara genealogis, pada waktu puisi mereka diciptakan, para penyair  Indonesia lebih  banyak  mengacu kepada peristiwa  yang terjadi di masyarakat saat itu.

V. Kesimpulan

Pemahaman  faktor  genealogi  ini  dianggap  penting  untuk  membantu  pembaca dalam   menangkap   makna   puisi   yang   tersirat   di dalamnya. Dengan  melihat  aspek genealogi   puisi,   maka   pembaca   dapat   mengetahui   perkembangan   dan   perbedaan di antara masing-masing angkatan atau periode. Pemahaman terhadap karakteristik puisi di setiap  angkatan  dapat  memudahkan  pembaca  untuk  memahami  makna  puisi  secara mendalam. Pada dasarnya, puisi itu tidak dapat diartikan, tetapi dapat diinterpretasikan. Oleh karena itu, memahami puisi harus didukung  dengan  pengetahuan  tentang  latar belakang  sosial  dan budaya  si penyairnya. Masalah pendidikan, latar belakang sosial dan budaya, serta status ekonomi akan berpengaruh terhadap proses penciptaan puisi. Puisi   tidak lahir dari  kekosongan  budaya. Artinya,  lahirnya sebuah puisi biasanya dapat mengacu kepada puisi-puisi sebelumnya.

Penulis: Muhammad Rizky Rukhyana

Instagram: @bangiky_

Twitter: @bangiky__

CATATAN REDAKSI: 

Amat disayangkan bahwa karya-karya “klasik” tersebut tidak selalu tersedia untuk didapatkan di toko buku “arus utama”. Memang, mereka nongkrong di banyak perpustakaan sekolah. Namun, tentu saja tak cukup. Kalau kita membandingkannya dengan negara-negara lain, misalnya, di toko-toko buku besar hampir selalu tersedia karya-karya klasik penyair dari tempat tersebut sehingga minat membaca puisi, paling tidak, dapat terjembatani. Tak hanya itu, ide-ide dari karya klasik tersebut juga dapat dibaca dan ditelaah oleh masyarakat secara populer. Maka dari itu, wajar bila banyak nama dari penyair yang dibahas pada tulisan di atas barangkali belum pernah didengar oleh para pembaca. Contoh konkretnya, kita barangkali hanya tahu sosok M. Yamin sebagai tokoh nasional, politisi, atau negarawan saja. Padahal, ternyata beliau adalah salah satu penyair pertama di Indonesia modern, yang darinya kita dapat mempelajari perkembangan nasionalisme Indonesia.

Daftar Pustaka

Badudu, J. (1984). Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga Tahun 40-an. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Pradopo, R. D. (1997). Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Rosidi, A. (1964). Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir? Jakarta: Bharatara.

Waluyo, H. J. (1991). Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Wellek. Rene, dan Austin Warren. (1968). Theory of Literature. Harmondsworth: Penguin Book Ltd.

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.