Stoikisme dan Filsafat Gaya Hidup

0
Share

Membahas stoikisme mungkin takkan pernah lekang oleh waktu. Lebih dari 2.000 tahun berkeliaran dalam dunia, baik dalam kalangan intelektual maupun bukan, menjadikan gagasan-gagasan stoik semakin menarik untuk diteliti.

Zeno dan Filsafat

Dimulai pada abad ke-3 sebelum masehi oleh Zeno, stoikisme dalam perkembangannya menggagas topik-topik yang cukup beragam seperti teologi dan astronomi. Salah satu kepercayaan kaum Stoa yang terkenal ialah pandangan bahwa emosi seperti ketakutan, kecemburuan, sampai keterikatan seksual yang berapi-api itu muncul dari penilaian yang salah.

Orang bijak, bagi mereka, takkan pernah mengalami hal-hal tersebut. Pertanyaan yang muncul kemudian ialah, apa itu bajik? Penganut stoikisme berpendapat bahwa seseorang itu dapat dikatakan bijak apabila ia telah mencapai kesempurnaan moral dan intelektual. Untuk lebih mendalaminya, kita akan beralih ke dua tokoh Stoa bernama Seneca dan Epictetus. Mereka lahir pada masa Kekaisaran Romawi, beberapa ratus tahun setelah meninggalnya Zeno.

Seneca dan Epictetus menekankan sebuah doktrin demikian:

“Orang bijak itu seharusnya benar-benar kebal terhadap segala kemalangan yang ada dan bahwa kebajikan itu cukup untuk kebahagiaan manusia.”

Ketika mempertimbangkan doktrin Stoa, kita perlu mengingat bahwa mereka menganggap filsafat itu bukan sebagai hobi yang menarik, apalagi sebuah pemikiran yang digandrungi oleh kalangan elit. Filsafat adalah sebuah cara hidup! Kaum Stoa kemudian mendefinisikan filsafat lebih spesifik, yakni askêsis (latihan) untuk menjelaskan apakah sesuatu itu bermanfaat atau tidak.

Ketika kita mengetahui seperti apa kita dan dunia sekitar kita yang sebenarnya, kita akan benar-benar berubah. Karya Meditations dari Marcus Aurelius memberikan gambaran yang menarik tentang bijaksana Stoa.

Dalam karya diari tersebut, Marcus Aurelius tidak hanya mengingatkan dirinya sendiri tentang isi pengajaran Stoa, tetapi juga pencelaan terhadap dirinya ketika ia gagal memasukkan ajaran Stoa ke dalam beberapa keputusan dalam hidup beliau. Hal ini tentunya agak bersebrangan dengan para penganut Stoa masa kini yang menganggap aliran filsafat Stoikisme hanya sebatas bentuk disiplin psikologis saja. Lebih dalam, dalam gaya hidup kaum Stoa, mereka tidak banyak membicarakan ide-ide abstrak.

Hal ini seperti sebuah kritik kepada filsafat, dimana orang-orang di dalamnya mencintai kebijaksanaan, tetapi gagal melakukan ide-ide kebijaksanaannya itu sendiri. Di mata kaum Stoa, ada yang dinamakan sebagai Logos Universal, atau yang dapat kita sebut sebagai Tuhan. Tuhan itu didefinisikan sebagai yang menata alam semesta ini dengan rasional. Jadi, apapun kejadian yang ada di dunia ini, senegatif apapun, mereka menganggapnya sebagai bagian dari tenunan Tuhan yang indah.

Stoikisme mempunyai 3 landasan ajaran

  • Logika/rasio
  • Fisika
  • Etika

Tema-tema yang dibicarakan sebagian besar berkisar pada gagasan kehendak bebas, takdir, pemeliharaan ilahi, dan kejahatan. Satu hal yang dapat dibilang tema terpentingnya ialah pertanyaan bagaimana manusia bertindak menurut keteraturan hukum alam yang ditopang oleh Tuhan.

Etika

Menurut para Stoik, manusia itu merupakan binatang bernalar. Penalaran yang didapati dari Tuhan membuat menusia menjadi elemen terpenting bagi Tuhan untuk menyelenggarakan segala keteraturan dunia. Tapi, manusia tentunya hanya satu elemen kecil dan jutaan-triliunan entitas lain.

Semua elemen dan entitas ini berhubungan erat. Karena manusia jadi elemen terpenting, jadi kalau manusia melakukan hal-hal jahat yang merusak eksistensi manusia itu sendiri, akan sangat berpengaruh juga bagi alam semesta. Lalu, bagaimana kita memposisikan diri kita sebagai manusia atau elemen terpenting ini?

Pertama-tama, kita harus mengerti bahwa dalam usaha kita mencari pemenuhan kebutuhan, kita tidak boleh melupakan relasi kita terhadap elemen lain, termasuk juga Tuhan. Kita harus sadar bahwa posisi kita itu setara dengan ciptaan lain. Ketika kita bertindak selaras (katekontik) dengan tindakan yang sejati), kita tentunya akan merasa bahagia, merdeka, dan bertindak secara tepat dalam kebaikan.

Kebudayaan dan Politik Yunani

Orang Yunani yang biasa-biasa saja (bukan intelektual), jarang mengetahui gagasan-gagasan dari Plato dan Aristoteles. Tapi hal yang berbeda terjadi pada Zeno. Pendiri sekolah Stoik tersebut malah dibuatkan patung di pusat kota Athena dengan biaya publik! Dalam patung itu kira-kira tertulis seperti ini,

“Zeno dari Citium selama bertahun-tahun telah mengabdikan dirinya pada Filsafat dan terus menjadi manusia yang berharga, menasihati kebajikan, dan membujuk para pemuda untuk datang kepadanya untuk diajar.”

Hal ini membuat kita menyadari bahwa kehormatan Zeno dalam hidupnya itu sesuai dengan prinsip-prinsip filosofis beliau yang juga diketahui oleh masyarakat umum. Kenapa masyarakat bisa tahu sampai segitunya (dibandingkan Plato dan Aristoteles) ya?

Tentunya karena orang-orang Stoa itu selalu berkumpul, berdiskusi, dan mengajar Filsafat di tempat umum, makanya ajaran serta gaya hidup Stoa dikenal secara luas. Stoikisme, seperti Epicurean, menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan cara yang sangat praktis.

Misalnya, bagaimana kita harus memandang kematian, penderitaan, kemiskinan, kekuasaan atas orang lain, dan perbudakan. Jawaban yang diberikan oleh kaum Stoa pun seperti benteng psikologis yang dapat melawan segala nasib buruk ini. Makanya, Stoikisme menjadi super booming.

Dalam level politik, dinasti Antigonid (yang memerintah Yunani dan Makedonia) memiliki hubungan erat dengan para filsuf Stoa. Antigonus Gonatas, pemimpin dinasti Antigonid, meminta Zeno untuk menjadi guru bagi putranya. Walau akhirnya ditolak Zeno, tetapi Zeno mengirim pengganti yang juga kaum Stoa, siapa dia? Persaeus, yang kemudian menjadi sangat berkontribusi bagi keputusan-keputusan politik di Yunani dan Makedonia.

Selain itu, stoikisme juga mempunyai pengaruh besar bagi bangsa Sparta, yang menjadikan orang-orang Stoa sebagai penasihat utama mereka.

We should always be asking ourselves: “Is this something that is, or is not, in my control?”

Epictetus

Sumber:

  1. Stoicism by Stanford Encyclopedia of Philosophy
  2. The Handbook of Virtue Ethics by Matthew Sharpe
Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *