The Reading Life – C. S. Lewis

0
Share

Clive Staples Lewis atau lebih dikenal dengan C. S. Lewis, adalah seorang penulis yang sangat berpengaruh dalam dunia literatur. Ia telah menulis lebih dari 30 buku dan karyanya dinikmati oleh berbagai kalangan. Beberapa karya fiksinya yang terkenal adalah The Chronicles of Narnia, The Screwtape Letter, dan The Space Trilogy. Karyanya, The Chronicles of Narnia, telah terjual lebih dari 100 juta kopi dalam 47 bahasa yang berbeda dan diadaptasi menjadi serial film dan teater. C. S. Lewis juga dikenal sebagai penulis buku non-fiksi Kristen, di antaranya adalah Mere Christianity, Surprised by Joy, dan The Four Loves.

Walaupun C. S. Lewis lebih dikenal sebagai penulis dari Inggris, ia sebenarnya lahir di Belfast, Irlandia pada tahun 1898 dan tumbuh besar di sana. Ketika ia berumur 10 tahun, ibunya meninggal dunia dan ia pindah ke Inggris untuk melanjutkan sekolahnya. Pada tahun 1914, ia berhenti bersekolah di sekolah umum dan memutuskan untuk belajar secara privat. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Oxford pada tahun 1921. Ia telah berkontribusi dalam dunia literatur semenjak kuliah dengan publikasi pertamanya yang berjudul Spirits in Bondage. Beberapa tahun setelah lulus, ia menjadi akademisi di Fakultas Bahasa Inggris, Universitas Oxford. C. S. Lewis berteman baik dengan penulis ternama J.R.R Tolkien, penulis trilogi Lord of The Rings yang juga merupakan akademisi di Universitas Oxford. Sepanjang hidupnya, selain dikenal sebagai penulis ternama, C. S. Lewis juga merupakan akademisi di beberapa institusi di Inggris antara lain Universitas Oxford, Royal Society of Literature, dan Medieval and Renaissance Literature di Universitas Cambridge.

Kegemarannya pada literatur telah terlihat sejak kecil. Ia sudah memulai membaca sejak umur 3 tahun dan menulis cerita fiksi pada umur 5 tahun. Keluarganya pun menanamkan kebiasaan untuk membaca dan orangtua C. S. Lewis tergolong berpendidikan tinggi pada masanya. Pada saat remaja, C. S. Lewis gemar membaca buku-buku tentang mitologi dan literatur Yunani kuno yang mempertajam kemampuan debat dan penalarannya. Dalam tulisannya, C. S. Lewis menyatakan, orang yang tidak membaca hidup dalam dunia yang sempit dan menyesakkan, karena mereka hanya puas dengan dirinya sendiri dan tidak melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Menurutnya, seseorang menjadi terkucilkan bukan ketika ia tidak menggunakan media sosial atau hanya mempunyai segelintir teman saja, tetapi ketika ia berhenti membaca. Ia juga berpendapat bahwa tidak cukup untuk hanya melihat dunia dari kacamata orang lain, tetapi ia juga ingin melihat apa yang telah diciptakan oleh orang tersebut dari sudut pandang mereka.  

C. S. Lewis menyatakan esensi dari penggunaan sebuah kata sangatlah penting. Terutama dengan perkembangan teknologi sekarang ini, banyak sekali orang menggantikan sebuah kata dengan emoji, membuat singkatan kata baru atau menyalahgunakan sebuah kata pada konteks tertentu. C. S. Lewis juga berpendapat bahwa seseorang tidak seharusnya membaca hanya demi untuk memuaskan ego atau menjadikannya sebagai suatu kebanggaan akademis. Terkadang, orang menjadikan list atau koleksi buku untuk menunjukan kecerdasan mereka dan merasa bangga atas apa yang mereka baca. Ia berkata, bacalah untuk memuaskan pengetahuan yang ingin anda ketaui, dan bukan untuk mengikuti tren atau memamerkan buku yang telah anda baca. Pandangannya terhadap kegemaran membaca dituangkan dalam tulisannya yang berjudul The Reading Life.

Pada tahun 1961, C. S. Lewis didiagnosa gagal ginjal dan meninggal dunia 2 tahun kemudian. Namun sampai saat ini, tulisan-tulisannya tetap menjangkau berbagai kalangan, dan pengaruhnya masih sangat terasa di dunia literatur dan akademik.

You can never get a cup of tea large enough or a book long enough to suit me.

– C. S. Lewis

Referensi:

https://www.britannica.com/biography/C-S-Lewis

https://www.biography.com/writer/cs-lewis

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *