Peradaban: Menilik Kebiasaan dan Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Mesir Kuno

2
Share

Sekitar tahun 6.000 SM sekelompok manusia telah menetap di lembah Nil. Namun, peradaban Mesir Kuno yang sesungguhnya dimulai sekitar 3.000 SM ketika kontrol politik di lembah Nil berada di bawah kepemimpinan Raja Narmer. Peradaban ini bertahan hingga 30 SM ketika bangsa Roma menaklukan Mesir dan menjadikan Mesir sebagai bagian dari kekaisaran Romawi. Kehidupan masyarakat Mesir kuno tebentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan alam, khususnya sungai Nil. Sungai ini sangat penting bagi kelangsungan hidup orang-orang Mesir kuno. Di dekat sungai Nil juga tersedia tanah yang subur untuk pertanian, selain itu secara geologis di sekitar gurun tersedia sumber daya alam mineral. Karena hasil alam yang melimpah ini, makanan sehari-hari mereka sangat beragam–seafood, buah-buahan, sayuran, domba, dan kambing. Namun umumnya mereka menyantap roti sebagai makanan pokok. Untuk minuman, mereka biasa meminum beer yang dibuat dari barley*.

Masyarakat Mesir kuno dibagi dalam kelompok strata sosial. Strata sosial ini dibentuk berdasarkan tugas dan pekerjaan setiap individu. Dasar piramida stratifikasi ini selalu ditempati oleh budak, pelayan dan buruh, petani penyewa tanah raja, kemudian pekerja seni berbakat, prajurit militer, pelaut, dan pendeta maupun para pekerja proyek besar negara (situs bangunan, makam, dan kuil). Di atas mereka ada kaum terpelajar maupun profesional (dokter, ahli tulis). Kemudian kaum elit yang mengontrol kekayaan negara, dan terakhir tepat berada di puncak piramida adalah Raja dan anggota keluarga kerajaan.

Masyarakat Mesir kuno umumnya cenderung menikah pada usia yang sangat belia. Perempuan menikah pada usia 12 tahun sedangkan laki-laki pada usia 15. Mesir juga memiliki angka kelahiran tertinggi pada dunia peradaban kuno. Semua orang bahkan dewa-dewi menikah. Pria yang belum menikah dianggap “tidak lengkap”, anak laki-laki selalu disarankan untuk menikah dan menjadi ayah bagi sebanyak mungkin anak. Wanita Mesir kuno memiliki hak yang hampir sama dengan kaum laki-laki, mereka dapat memiliki bisnis sendiri, tanah, dan rumah. Selain itu mereka dapat mengugat cerai lebih dahulu bahkan membuat kontrak dengan laki-laki. Ini merupakan bentuk kesetaraan gender yang belum pernah ada dan dilakukan oleh peradaban kuno lain.

Dalam hal kepercayaan, masyarakat Mesir kuno umumnya menyembah dewa-dewi. Kuil pantheon* Mesir mencakup beberapa ribu dewa. Dewa-dewa ini diatur dalam hierarki. Dewa negara yang diakui secara nasional pada bagian atas, sedangkan dewa yang penting di bagian tengah, dan setengah dewa dan mahluk gaib di bagian bawah. Masyarakat Mesir kuno sangat fleksibel dan terbuka mengenai pendeta, siapapun bisa menjadi pendeta baik laki-laki maupun perempuan. Pendeta utama dari aliran dewa manapun biasanya berjenis kelamin sama dengan dewa yang mereka sembah. Contoh pendeta utama sekte dewi Isis adalah perempuan dan pendeta utama sekte Amun adalah laki-laki. Pendeta dapat berkeluarga, dan biasanya anak-anak mereka juga menjadi pendeta seperti mereka.

Biasanya, festival maupun perayaan Mesir kuno bersifat religius dan diadakan sehubungan dengan kalender lunar di kuil-kuil. Selain itu festival diadakan untuk memperingati hari-hari tertentu dalam kehidupan masyarakat. Setiap dewa-dewi Mesir kuno punya hari kelahiran yang harus dirayakan, kemudian ada ulang tahun setiap individu, hari peringatan perbuatan besar raja, pemakaman, dan sebagainya. Festival Mesir kuno masing-masing memiliki keunikan tersendiri, namun ada hal yang tak bisa ditinggalkan masyarakatnya dalam festival, yaitu pesta mewah dengan makanan dan minuman, penyanyi, pemusik, akobat, dan wanita penari. Untuk hiburan, masyarakat Mesir yang kaya sering pergi memancing dan berlayar. Permainan papan pun sangat digandrungi, permainan papan favorit mereka adalah “senet” dan “hounds and jackal”.


Permainan papan Senet. Sumber : givemehistory

Bagi masyarakat Mesir kuno, penampilan merupakan aspek yang sangat penting. Baik laki-laki maupun perempuan memakai perhiasan dan makeup guna menunjang penampilan mereka. Makeup itu sendiri juga memiliki arti yang mendalam, mereka percaya bahwa makeup memiliki kekuatan magis yang dapat membuat dewa Horus dan Ra memberikan perlindungan. Makeup yang paling sering dianggap sebagai ciri khas bangsa Mesir adalah makeup mata. Mereka menggunakan pensil mata yang disebut kohl, yang dibuat dari perunggu dan galena yang dihaluskan. Wanita  Mesir sangat suka mengecat kuku mereka dengan henna dan memerahkan bibir serta pipinya dengan menggunakan pasta merah kekuningan. Selain itu, untuk menjaga kesegaran dan kebersihan tubuh, mereka rutin mandi setiap hari di sungai Nil atau menggunakan sebuah guci dan bak. Khusus untuk bangsa Mesir yang kaya, mereka dimandikan oleh pelayannya. Untuk membersihkan tubuh lebih baik, mereka menggunakan krim pembersih yang dibuat dari minyak, limau, dan wewangian. Mereka juga suka menggosok seluruh badan mereka dengan pelembab dan memakai parfum yang terbuat dari minyak, myrrh*, dan kayu manis.

Pakaian masyarakat Mesir kuno biasanya terbuat dari linen putih. Hal ini dikarenakan kondisi iklim di sana yang cenderung panas. Laki-laki mengenakan kain linen di pinggang mereka seperi rok pendek, sedangkan kaum wanitanya mengenakan gaun panjang dan tipis. Anak-anak akan telanjang dari lahir sampai berumur 10 tahun. Hampir semua orang, pada setiap strata sosial, cenderung tidak beralas kaki, namun pada acara tertentu atau ketika akan menempuh perjalanan jauh, mereka akan menggunakan sandal agar tidak melukai kaki mereka. Setiap orang Mesir kuno juga memakai perhiasan. Orang-orang kaya memakai emas bertatahkan permata, sedangkan yang miskin memakai tembaga atau faience*.

Bagi masyarakat Mesir kuno kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan sebagai suatu langkah menuju jalan kehidupan yang lebih bermakna di kehidupan dunia berikutnya. Setiap orang dianggap memiliki tiga jiwa, yaitu ka, ba, dan akh. Agar ketiganya tetap baik, tubuh harus tetap utuh. Oleh karena itu masyarakat Mesir kuno berusaha untuk mengawetkan jenazah dengan teknik pembalsaman. Mereka terus-terusan mengembangkan teknik pembalsaman untuk mengawetkan tubuh raja dan orang-orang kaya yang dapat membayar. Teknik pengawetan tubuh ini sendiri menguras biaya yang tidak sedikit, terutama untuk perawatan mumi sehingga orang-orang yang tidak mampu membayar pengawetan dan perawatan mumi ini memilih untuk menguburkan jenazahnya seperti biasa.

Ilustrasi Mumi. Sumber : pinterest

Untuk mengawetkan jenazah dan membuatnya menjadi mumi, hal pertama yang dilakukan adalah mengeluarkan organ-organ usus, lambung, paru-paru. Khusus untuk otak, otak dikeluarkan dengan mematahkan tulang ethmoid* dan menusuk lubang hidung dengan sendok bergagang panjang. Kemudian organ-organ tersebut dimasukkan ke guci canopic dan tubuhnya dikeringkan menggunakan natron (garam). Setelah itu tubuh yang telah dikeringkan diisi dengan serbuk gergaji, damar, dan natron, kemudian dibalut dengan perban menjadi mumi dan diletakkan sebuah potret topeng di kepala mumi, jimat, maupun buku kematian yang berisi mantra sihir dan sebuah peta untuk membimbing mumi. Pada akhirnya, mumi tersebut diletakkan dalam peti mati.

Glosarium :

*barley: (Hordeum vulgare), anggota keluarga rumput, adalah biji-bijian sereal yang ditanam di daerah beriklim sedang secara global

*ethmoid: tulang yang memisahkan rongga hidung dari rongga tengkorak

*faiance: debu kwarsa yang dihaluskan

*myrrh: (dari bahasa Aram), adalah getah alami yang diesktrak dari sejumlah spesies pohon berduri kecil dari genus Commiphora

*pantheon: berasal dari kata Yunani klasik πάνθειον (pantheion) yang berarti kuil untuk semua dewa

Sumber :

Buku Sejarah Dunia by John Frandon

Modul Egypt: Life in Ancient Egypt by The British Museum

Artikel online History Extra: “Life in Ancient Egypt: what was it like?” by Joyce Tyldesley (senior lecture in Egyptology at the Universtity of Manchaster) https://www.historyextra.com/period/ancient-egypt/life-in-ancient-egypt-what-was-it-like/

Artikel online Ancient History Encyclopedia: “Daily Life in Ancient Egypt” by Joshua J. Mark (Professor of Philosophy at Marist College, NY) https://www.ancient.eu/article/933/daily-life-in-ancient-egypt/

Related Posts
2 Comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *